“Ini sejalan dengan atensi khusus dari Menteri Hukum dan HAM, Bapak Supratman Andi Agtas. Kita ingin memastikan bahwa pembinaan yang diberikan berkualitas dan berdampak baik,” katanya.
Menjalin kolaborasi lintas sektor, menurut Hermansyah, adalah kunci untuk memastikan bahwa seluruh program pembinaan ini bisa berjalan efektif.
“Ini bukan tugas yang bisa diselesaikan satu pihak saja. Kita semua harus bergandengan tangan. Bahu membahu memajukan bangsa dan negara,” tutupnya.
Kunjungan seperti ini, meski terlihat sederhana, memiliki dampak yang besar. Para warga binaan merasa dihargai dan diakui, bukan hanya sebagai narapidana, tetapi sebagai individu yang sedang berusaha memperbaiki diri. Perhatian dari masyarakat luar, apalagi dari organisasi sebesar DWP, menjadi bukti bahwa mereka tidak sendirian dalam perjalanan ini.
Ny. Yayuk dan rombongan pun menyempatkan diri untuk berbincang langsung dengan beberapa warga binaan. Mereka berbagi cerita tentang keluarga, harapan, dan tentu saja, tentang kehidupan di balik tembok lapas. Ada tawa, ada tangis, dan ada harapan yang muncul di tengah obrolan hangat tersebut.
Sebelum meninggalkan Lapas Perempuan Palu, Ny. Yayuk memberikan pesan yang menenangkan. “Kita semua pernah melakukan kesalahan, tapi itu tidak mendefinisikan siapa kita. Yang penting adalah bagaimana kita bangkit dari kesalahan tersebut,” katanya sambil menggenggam tangan salah satu warga binaan.
Ini bukan hanya kunjungan biasa. Ini adalah bukti bahwa dengan dukungan dan perhatian, setiap individu memiliki kesempatan untuk berubah dan memberikan kontribusi positif. Warga binaan Lapas Perempuan Palu telah menunjukkan bahwa mereka mampu berkarya dengan luar biasa, bahkan di tengah keterbatasan.
Sebagai penutup, semoga upaya bersama ini bisa menjadi awal yang baik untuk kehidupan yang lebih baik. Harapan selalu ada, bahkan di tempat yang paling tidak terduga sekalipun.
Artikel Terkait
Bahaya Perundungan di Kampus: Kemenkumham Sulteng Serukan Kesadaran Hukum