• Kamis, 4 Juni 2026

Dibalik Kilau Nikel, Pertaruhan Keadilan Sosial dan Lingkungan di Tengah Ekstraksi Besar-Besaran

.
Amirullah, Sulawesi Today
- Selasa, 5 November 2024 | 19:53 WIB
Industri nikel Indonesia menghadapi kritik tajam terkait isu keadilan sosial dan lingkungan, menyoroti urgensi tata kelola berkelanjutan. #HilirisasiNikel #KeadilanLingkungan #EnergiTerbarukan #HakTe (Amirulah)
Industri nikel Indonesia menghadapi kritik tajam terkait isu keadilan sosial dan lingkungan, menyoroti urgensi tata kelola berkelanjutan. #HilirisasiNikel #KeadilanLingkungan #EnergiTerbarukan #HakTe (Amirulah)

Di tengah dorongan hilirisasi nikel, Fajri Fadhillah dari Indonesian Center for Environmental Law (ICEL) menegaskan bahwa pemerintah harus segera memperketat regulasi lingkungan di sektor ini. “Pengetatan standar lingkungan dan penguatan penegakan hukum harus menjadi prioritas Pemerintahan Prabowo-Gibran,” tegas Fajri.

Fajri juga menambahkan bahwa peta jalan transisi dari PLTU captive ke energi terbarukan harus dikedepankan, demi kesehatan masyarakat sekitar tambang dan smelter. Langkah ini tidak hanya membawa keuntungan bagi kesehatan lingkungan, tetapi juga meningkatkan daya saing Indonesia dalam rantai pasokan nikel global.

Beban Pembangunan Daerah Penghasil Nikel

Direktur Eksekutif CELIOS, Bhima Yudhistira, mengkritik rendahnya bagi hasil yang diterima daerah penghasil nikel, yang masih belum sebanding dengan dampak lingkungan dan sosial yang mereka tanggung. “Sebagian besar manfaat ekonomi berpusat pada pemerintah pusat dan perusahaan besar, sementara daerah terdampak hanya menerima bagian terbatas,” ujarnya.

Dalam konteks ini, peningkatan kapasitas fiskal daerah, baik melalui dana transfer maupun sumber alternatif, sangat dibutuhkan agar pemerintah daerah dapat mengelola dampak lingkungan dan sosial dengan lebih efektif.

Penderitaan Nelayan di Tengah Aktivitas Pertambangan

Dampak dari ekspansi tambang nikel bahkan merambah hingga ke desa-desa kecil. Di Desa Tompira, Murniati, seorang warga lokal, mengungkapkan kesulitan yang dialami masyarakat nelayan akibat kerusakan sungai yang dulu menjadi sumber penghidupan.

“Meti yang dulu mudah ditemukan kini semakin berkurang,” kata Murni. Sungai Laah yang dulu menjadi tempat mencari nafkah kini rusak akibat penambangan pasir, membuat para nelayan kehilangan mata pencaharian.

Langkah ke Depan Menuju Industri Berkelanjutan

Demi tercapainya tata kelola yang adil, penting bagi seluruh pihak untuk mengevaluasi kembali arah pengelolaan sumber daya mineral ini. Dengan meningkatnya tekanan global untuk transisi energi, Indonesia memiliki peluang besar untuk memanfaatkan nikel secara berkelanjutan.

Namun, tanpa langkah yang tegas dalam mengatasi dampak lingkungan dan sosial, upaya hilirisasi ini berisiko membawa kerugian yang tak terhingga bagi masyarakat dan lingkungan di sekitar wilayah tambang.

Halaman:

Editor: Amirullah

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini