Sulawesitoday - Polemik di dunia maya kembali mencuat setelah sejumlah netizen menanggapi permintaan maaf yang disampaikan oleh Muhammad Fuad Riyadi, yang lebih dikenal sebagai Gus Fuad Plered. Dalam pernyataannya yang dirilis pada Jumat (28/3/2025), Gus Fuad berupaya meredam kontroversi dengan menyampaikan permintaan maaf terkait penggunaan kata “Monyet”.
Menurutnya, istilah tersebut tidak ditujukan secara pribadi kepada Habib Idrus Bin Salim Aljufri, yang akrab disapa Guru Tua, melainkan kepada pihak-pihak yang dianggapnya mencoba mengakali prosedur resmi dalam pengusulan gelar pahlawan nasional.
Tak sedikit komentar pedas bermunculan di media sosial. Seorang netizen di FB dengan akun @Om Duda T mengajak “Suruh datang di palu orang ini,” sedangkan @Zaitun A menyebut, “Pambohong...sdh nyata-nyata Dia Menghina dan Memfitnah Guru Tua.”
Komentar lainnya dari @Budi K dan @Marlin C bahkan menuntut agar Gus Fuad datang langsung ke lokasi untuk meminta klarifikasi dan permohonan maaf secara terbuka di hadapan masyarakat. Kritik pedas ini menambah dinamika polemik yang tengah berlangsung.
Dalam klarifikasinya, Gus Fuad menjelaskan, “Saya menyampaikan permohonan maaf, jika pernyataan saya dianggap menghina pihak-pihak yang terkait. Apa yang saya nyatakan tentang usulan pahlawan nasional itu, semata-mata untuk menjaga kewibawaan pemerintah, serta untuk menjaga kebesaran nama para pahlawan yang benar-benar telah berjuang demi kemerdekaan bangsa dan martabat Indonesia.”
Ia menekankan bahwa pernyataannya diarahkan kepada praktik pengusulan yang dianggapnya tidak memenuhi kriteria formal, bukan kepada tokoh ulama besar seperti Guru Tua.
Gus Fuad menyinggung pula informasi dari Tim Peneliti Pengkaji Gelar Pusat yang mengungkapkan bahwa sejak 2006, pengusulan gelar pahlawan nasional kerap tertunda karena minimnya bukti fisik perjuangan dan kendala status kewarganegaraan.
Ia menambahkan, “Saya membaca pernyataan dari Menteri Sosial saat itu, yang mengedepankan semangat merangkul, namun saya khawatir jika syarat tidak terpenuhi, gelar pahlawan tetap akan diberikan. Ini berbahaya bagi kewibawaan pemerintah.”
Baca Juga: Kontroversi Sebut Monyet Hina Guru Tua, Gus Fuad: Semata-mata Jaga Kewibawaan Pemerintah
Menggunakan analogi kisah dalam Al-Qur’an tentang kaum yang menyiasati aturan hingga mendapat kutukan sebagai “Monyet”, Gus Fuad menegaskan bahwa kritik tersebut semata-mata untuk menolak praktik akal-akalan, bukan sebagai penghinaan terhadap Guru Tua.
Ia juga mengajak seluruh pihak untuk mendukung pemerintah dalam menjalankan tugas dan amanah konstitusi tanpa menambah beban baru yang dapat merusak persatuan bangsa.
Pernyataan ini diharapkan mampu menenangkan situasi dan mengembalikan semangat persatuan, sekaligus menjaga proses pengusulan pahlawan nasional agar tetap sesuai prosedur yang berlaku.