Sulawesitoday - Empat bulan tanpa gaji. Delapan bulan jasa tak jelas kabarnya. Tapi para honorer tenaga kesehatan di RSUD Tombulilato, Bone Bolango, masih setia datang tiap pagi, menyingsingkan lengan baju, dan bekerja seperti biasa.
Mungkin karena sudah terbiasa menunggu. Atau karena mereka tahu, suara protes kadang lebih cepat dibungkam daripada dijawab.
“Sudah dijanji akhir April kemarin bakal dibayar. Nyatanya, sekarang sudah Mei, belum juga masuk,” kata XL, salah satu tenaga honorer, saat ditemui Sabtu (3/5). Ia bicara pelan. Bukan karena takut—meski mungkin juga iya. Tapi karena sudah lelah.
Honorer lain memilih diam. Bukan tidak peduli. Tapi karena mereka tahu, di rumah sakit, diam seringkali lebih aman daripada jujur. Keluhan banyak. Tapi yang sampai ke telinga pimpinan? Hampir tak ada.
Direktur RSUD Tombulilato, Milyadi Maksum, tidak membantah. Ia bahkan menyampaikan sendiri bahwa pembayaran gaji dan jasa belum dilakukan. Katanya, kendalanya ada di BPJS Kesehatan. Soal verifikasi klaim yang butuh waktu.
"Biasanya sekitar 10–15 hari. Setelah itu baru BPJS kirimkan umpan balik. Itu jadi dasar pembayaran,” ujarnya.
Tapi di tengah antrean panjang klaim dan formulir itu, ada manusia yang tetap bekerja. Ada keluarga yang menunggu nasi di meja. Ada kelelahan yang tak dibayar.
Milyadi menjanjikan akan segera membayar gaji. Untuk jasa? “Mungkin hanya enam bulan yang bisa kami bayar,” katanya, dengan nada datar. Seolah enam bulan itu hanya angka. Padahal di baliknya ada delapan bulan kerja yang tak pernah libur.
“Jasa itu sebenarnya reward, bukan kewajiban,” jelasnya. Gaji utama. Jasa—bonus. Logika yang barangkali benar di kertas. Tapi agak menyakitkan di dunia nyata.
Baca Juga: Tak Bisa Terbang, Tak Dapat Refund: Hasri Jack Ngamuk di Bandara Usai Batik Air Batalkan Penerbangan
Masalahnya belum selesai di situ. RSUD Tombulilato ternyata belum berstatus BLUD. Artinya, urusan bayar-membayar ikut tempo klaim. “Gaji November–Desember 2024 saja baru kami bayar Februari 2025,” ujar Milyadi, tanpa ragu.
Jadi bukan salah siapa-siapa. Hanya sistem yang memang dibuat untuk membuat orang sabar. Dan para honorer itu, rupanya sedang belajar sabar, sambil tetap berjaga di lorong rumah sakit yang tidak pernah tidur.