Sulawesitoday , 10 Mei 2025 – Di tengah kabar siswa keracunan makanan bergizi gratis di berbagai kota, Badan Gizi Nasional justru menggulirkan wacana baru: asuransi kebakaran dan kecelakaan.
Bukan untuk gedung sekolah, bukan juga untuk dapur penyedia katering. Tapi... untuk setiap porsi makanan. Persis. Asuransi untuk sepiring nasi, lauk, dan sayur yang, belakangan ini, lebih sering jadi sumber petaka ketimbang solusi.
Deputi Bidang Sistem dan Tata Kelola BGN, Tigor Pangaribuan, menyebut pihaknya sedang menyusun formula anggaran agar satu porsi senilai Rp15 ribu itu bisa mencakup “perlindungan”. Bukan cuma dari lapar, tapi dari hal-hal tak terduga.
“BGN sedang mencari formulasi agar budget Rp15 ribu juga bisa meng-cover asuransi kebakaran, kecelakaan,” kata Tigor, Sabtu lalu di Jakarta.
Kalimat itu mengalir ringan di mikrofon wartawan. Tapi di Kota Bogor, berita tentang ‘makan siang berbahaya’ kembali muncul. Kali ini, 171 siswa dari 13 sekolah tumbang usai menyantap makanan MBG. Muntah, diare, dan demam jadi menu tambahan hari itu.
Dinas Kesehatan Kota Bogor turun tangan. Investigasi epidemiologi digelar. Sampel muntahan dikumpulkan. Rumah sakit ikut membantu, puskesmas dikerahkan. Tapi tetap saja, kerusakan sudah terlanjur terjadi.
Lucunya—atau mungkin tragisnya—Kepala BGN, Dadan Hindayana, disebut sampai mengeluarkan uang pribadi untuk membantu para orang tua siswa. Tigor membenarkan. “Pak Kepala Badan sampai ikut mengkompensasi biaya orang tua siswa yang menunggu anaknya di RS,” ujarnya.
Gambaran ini mengingatkan pada film lama: seseorang membangun rumah, lalu terus-menerus sibuk memperbaiki kebocoran atap yang tak selesai-selesai. Tapi alih-alih ganti tukang, dia malah beli payung untuk semua penghuninya.
Sejak awal tahun, keracunan MBG sudah menjalar ke banyak titik. 742 siswa di Tasikmalaya, Cianjur, Bandung, dan Karanganyar mencatatkan gejala yang sama. Di Sumatera Selatan, tepatnya di Kabupaten PALI, 121 siswa juga ikut tumbang.
Lalu muncul pertanyaan yang tak bisa dielak: Apakah asuransi ini bentuk tanggung jawab—atau sekadar strategi bungkus masalah?
Gizi memang penting. Tapi mutu makanan dan pengawasan jauh lebih mendesak. Asuransi hanya akan jadi perban, jika dapurnya masih bocor.