Sulawesitoday - Minggu sore (11/5) di Pantai Berkas, Bengkulu, laut sedang tidak bersahabat. Awan gelap menggulung, angin mendesing, dan kapal wisata “Tiga Putra” yang membawa 104 penumpang mulai kehilangan keseimbangan.
Kapal itu, yang hendak membawa wisatawan ke Pulau Tikus, akhirnya bocor dihantam badai. Ombak besar tak peduli siapa di atas kapal—nahkoda, ABK, atau wisatawan. Hasilnya: tujuh nyawa tak kembali. Lima belas orang dilarikan ke RS HD, dan 19 lainnya masih menjalani perawatan di RS Bayangkara.
Kejadian ini tidak hanya tentang cuaca buruk. Ia tentang sistem yang lagi-lagi kalah cepat. Tentang peringatan dini yang entah dibaca atau diabaikan. Tentang standar keselamatan yang mungkin lebih sering jadi slogan ketimbang praktik.
Menteri Pariwisata, Widiyanti Wardhana, tentu menyampaikan duka. “Kami sangat prihatin... semoga keluarga korban diberi ketabahan,” ucapnya. Tapi duka tak bisa memulihkan yang hilang. Maka seruan selanjutnya lebih penting: audit menyeluruh terhadap semua operator kapal wisata di Bengkulu.
Audit ini—kalau benar dilakukan—harus menyentuh hal-hal yang kerap dilewatkan. Dari kondisi mesin kapal yang suka mendadak mogok, pelampung yang lebih sering jadi pajangan, hingga jumlah penumpang yang kadang melebihi kapasitas.
“Mengangkut wisatawan ke tengah laut bukan urusan jualan tiket semata. Ada tanggung jawab hidup orang lain di sana,” tegas Menteri.
Widiyanti juga mengingatkan pentingnya sistem peringatan dini cuaca. Sebuah peringatan, kalau tidak diindahkan, hanyalah bunyi tanpa gema. Dan pertanyaannya: siapa yang seharusnya menjadikan itu alarm tindakan?
Sayangnya, kita punya kebiasaan lama: bertindak setelah bencana. Ketika semuanya sudah karam, baru sibuk menyelam.
Baca Juga: Dugaan Korsleting Listrik Ubah Hening Dini Hari Jadi Amukan Api di Pasar Simpong Banggai
Menteri pun mengapresiasi semua pihak yang turun tangan: Basarnas, BPBD, TNI, Polri, juga nelayan dan warga. Tapi seperti biasa, harapan tetap menggantung di ujung kalimat: agar kejadian ini tidak terulang lagi.
Kita tahu, harapan semacam itu bukan hal baru. Tapi entah kenapa, masih saja terasa asing di perairan kita.