Sulawesitoday - Kepergian Presiden Prabowo Subianto menuju Singapura, Minggu 15 Juni 2025, dalam rangka kunjungan kenegaraan, menyisakan sebuah momen yang tak luput dari pengamatan.
Di tengah deretan para pejabat yang melepas keberangkatannya—Wapres Gibran Rakabuming Raka, Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad, serta Menteri ESDM/Investasi Bahlil Lahadalia—sebuah gestur sang kepala negara justru menyulut tanda tanya. Sebuah pemandangan yang boleh jadi, memancing beragam spekulasi.
Prabowo tampak bergegas. Namun, saat Bahlil Lahadalia mengulurkan tangan hendak menyalami, sang presiden justru tak menyambut jabat tangan itu.
Alih-alih, ia melontarkan isyarat lain yang membaur dengan suasana bandara yang riuh. Sebuah pemandangan yang kontras dan mengundang kerut dahi, terutama bagi mereka yang akrab dengan dinamika istana. Momen Prabowo tak menyambut jabat tangan Bahlil ini sontak menjadi perbicangan.
Sikap presiden itu, bagai sebuah teka-teki yang perlu diurai. Apalagi, dalam pekan ini, ia dijadwalkan akan memberikan tanggapan atas berbagai isu nasional yang mendera, termasuk kisruh lahan di Raja Ampat. Sebuah persoalan pelik yang, entah kebetulan atau tidak, menyeret nama Menteri Bahlil Lahadalia. Isu Raja Ampat itu bagai benang kusut yang makin melilit.
Lantas, apakah isyarat tangan itu sekadar refleks biasa, ataukah ada pesan tersembunyi yang ingin disampaikan? Apakah ini sebuah kode, sebuah peringatan, atau sekadar ketidaksengajaan di tengah padatnya jadwal seorang presiden? Aura misterius menyelimuti interaksi singkat itu.
Baca Juga: Akhir Pelarian Koruptor Tojo Una-Una, Digulung Tim Buru Sergap Kejati Sulteng
Dalam peta politik nasional, setiap gestur dari pucuk pimpinan kerap diinterpretasikan berlipat ganda. Apalagi ketika ia melibatkan seorang menteri yang tengah diuji oleh gelombang isu panas.
Momen Presiden Prabowo tak menyambut jabat tangan Bahlil tersebut, seakan menjadi petunjuk kecil di tengah labirin intrik kekuasaan. Sebuah pertanyaan menggantung: pesan apa yang sebenarnya ingin disampaikan Prabowo kepada Bahlil Lahadalia lewat isyarat non-verbalnya itu?