berita

BNPB Terjunkan Tim Pendampingan Darurat, Pacu Penanganan Bencana di Parigi Moutong Pasca Banjir

Selasa, 24 Juni 2025 | 05:41 WIB
BNPB terjunkan tim ke Parigi Moutong bantu penanganan banjir bandang. Fokus pada manajemen posko, logistik, dan pemenuhan kebutuhan korban.

Sulawesitoday - Setelah banjir bandang melahap sebagian wilayah Parigi Moutong, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) tak buang waktu. Senin kemarin, sebilah Tim Reaksi Cepat (TRC) mereka dilepaskan ke Palu, Sulawesi Tengah, dengan satu misi penting: menopang Pemerintah Daerah (Pemda) dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat agar penanganan pasca-bencana tak lantas limbung.

Tim ini, bagai navigator di tengah badai, hadir untuk memberikan asistensi vital di masa tanggap darurat. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, menjabarkan fokus utama mereka.

"Tim ini akan menjadi tulang punggung bagi BPBD Parigi Moutong," ujar Muhari, menegaskan komitmen BNPB. Mulai dari menata manajemen Pos Komando agar tak carut-marut, memastikan logistik mengalir lancar dan tepat sasaran, hingga peralatan yang terpakai efisien. Bahkan, urusan administrasi kebencanaan pun turut dipoles agar tercatat rapi, tak lenyap begitu saja seperti jejak air bah.

Tak hanya bermodal keahlian, TRC BNPB juga membawa serta 'amunisi' tambahan: dukungan logistik dan sejumlah peralatan yang siap dioperasikan. Sebuah langkah konkret untuk memperkokoh benteng penanganan di titik-titik bencana.

Ketika Sungai Toribulu Mengamuk

Banjir bandang itu sendiri datang tanpa permisi. Minggu subuh, sekitar pukul 04.30 WITA, badai hujan yang tak henti mengguyur menjadi pemicu utama. Sungai Toribulu, yang biasanya tenang, mendadak berubah jadi monster, meluap dan menerjang Desa Sienjo serta Desa Sibalago di Kecamatan Toribulu, Parigi Moutong.

Dampak yang ditinggalkan sungguh memilukan. Tiga nyawa terenggut paksa, enam lainnya masih misteri, tersapu entah kemana, kini dalam pelukan tim SAR gabungan yang tak kenal lelah mencari. Sepuluh orang lagi luka-luka, kini tengah dirawat agar pulih kembali. Lebih dari seribu tiga ratus jiwa, atau tepatnya 1.323 jiwa dari 350 Kepala Keluarga, terpaksa angkat kaki, mengungsi mencari tempat yang lebih aman dari amukan alam.

Pemandangan di lokasi juga tak kalah menyayat hati. Berdasar data BPBD Parigi Moutong, 79 rumah hancur lebur, bagai diremas tangan raksasa. Satu jembatan, satu gereja, dan satu sekolah juga tak luput dari kehancuran. Belum lagi areal pertanian dan perkebunan warga, yang kini hanya tinggal puing-puing dan lumpur.

Prioritas Darurat: Nyawa dan Kebutuhan Dasar

Pemerintah Kabupaten Parigi Moutong telah mengibarkan bendera Status Tanggap Darurat Bencana. Ini bukan hanya simbol, melainkan panggilan untuk seluruh elemen bergerak cepat. Tim SAR Gabungan, dengan anggota dari berbagai instansi, terus berjibaku mencari enam warga yang masih hilang.

Baca Juga: Anleg Komisi VIII DPR RI Soroti Ketidakhadiran Dinkes dan BPBD di Lokasi Banjir Parigi Moutong

BPBD setempat pun tak tinggal diam. Mereka sigap mengevakuasi warga terdampak, mendirikan dapur umum yang mengepulkan asap harapan bagi para pengungsi, serta melakukan kaji cepat untuk memetakan kebutuhan mendesak dan skala kerusakan.

Saat ini, fokus utama tim gabungan di lapangan hanya dua: menemukan dan menyelamatkan korban yang masih tersisa, serta memastikan kebutuhan dasar para pengungsi—mulai dari makanan, air bersih, hingga tempat berteduh sementara—terpenuhi. Sebuah upaya kolosal demi memulihkan senyum di tengah getirnya cobaan.

Tags

Terkini