Sulawesitoday - Kasus malaria di Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, kembali menyeruak. Padahal, wilayah ini baru saja merayakan status bebas malaria. Kini, 117 kasus baru muncul bak bayangan dari masa lalu, mengancam capaian yang telah diraih. Menyikapi kemunculan penyakit ini, Bupati Parigi Moutong, Erwin Burase, instruksikan penyelidikan mendalam. Sumber penularan harus segera ditemukan.
Perintah itu, disampaikan Bupati Erwin saat menerima audiensi Tim Kerja Penanganan Malaria Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI dan Dinas Kesehatan (dinkes) Provinsi Sulawesi Tengah. Pertemuan pada Senin, 4 Agustus 2025, ini membahas strategi penanggulangan malaria di Parigi Moutung. Audiensi dilakukan di ruang rapat bupati.
Ketua Tim Kemenkes, Ze Eza Yulia Pearlovie, menjelaskan, status eliminasi malaria pada 2024 kini berada di ambang batas. Data Sistem Informasi Surveilans Malaria (SISMAL) per 2 Agustus 2025 menunjukkan, 75 persen dari kasus baru merupakan penularan lokal. Angka ini membuktikan malaria tak datang dari luar daerah. Ia bersarang di dalam, menyebar dari satu orang ke orang lain.
Menurut data Dinkes Kabupaten Parigi Moutong, total ada 117 kasus malaria. Kasus itu tersebar di empat kecamatan. Kecamatan Moutong menjadi episentrum, mencatat 105 kasus. Sisanya, 6 kasus terjadi di Sausu, 4 kasus di Bolano Lambunu, dan 2 kasus di Taopa.
Bupati Erwin menegaskan, pemerintah daerah tak akan tinggal diam. Ia bahkan siap mengeluarkan rekomendasi khusus untuk mempercepat respons di lapangan. "Penerbitan rekomendasi sangat penting. Agar penyelidikan sumber penularan segera dilakukan," ujar Erwin. Upaya pengendalian, kata dia, harus lebih terarah.
Dukungan pemerintah daerah tidak berhenti di situ. Ia juga memastikan kolaborasi lintas sektor. Pencegahan dan pengendalian penyakit ini butuh sinergi. Sebab, nasib eliminasi malaria di Parigi Moutong kini dipertaruhkan.
Baca Juga: Bupati Parigi Moutong Terbitkan Edaran Wajib Salat Berjamaah Bagi ASN Muslim, Ini Poin Pentingnya