Namun hasilnya masih jauh harapan. Firnando menggunakan metafora menarik. "Seperti jerawat," katanya. "Diberantas di satu titik, muncul di titik lain."
Indonesia negara kepulauan. Ribuan pulau menjadi celah masuk. Pengawasan harus jauh lebih ketat. Lebih masif.
Firnando mendorong koordinasi lebih kuat. Satgas harus bekerja di bawah Kemenko Perekonomian. Langsung ke Presiden. Ini soal kedaulatan ekonomi.
Penyelundupan bukan kejahatan biasa. Ini merusak fondasi industri nasional. Merampas lapangan kerja. Menguras devisa negara.
-
Optimisme terhadap Era Prabowo
Pandangan Firnando soal pemerintahan baru cukup positif. Presiden Prabowo dinilai punya kemauan besar.
"Saya optimistis," kata Firnando. "Pak Prabowo sudah selesai dengan urusan pribadi." Sekarang waktunya berbakti untuk negara.
Beliau punya komitmen kuat. Memperkuat industri dan kemandirian ekonomi. Firnando yakin arah kebijakan ke depan berpihak pada produksi nasional.
Industri strategis akan diperkuat. Ini bukan sekadar janji politik. Tapi kebutuhan mendesak bangsa.
-
Warisan untuk Indonesia
Di penghujung perbincangan, Firnando berbicara soal legacy. Apa yang ingin ia wariskan sebagai anggota DPR?
"Saya ingin dikenang bermanfaat," ujarnya. "Berjuang agar BUMN kembali ke jati dirinya." BUMN bukan sekadar korporasi pencetak laba.
Lebih dari itu. BUMN adalah agen pembangunan bangsa. Pilar kedaulatan ekonomi.
Jika BUMN, industri, dan rakyat berjalan seimbang—di situlah Indonesia benar-benar berdaulat. Bukan hanya di atas kertas. Tapi dalam realitas sehari-hari.
Firnando menutup dengan harapan. BUMN harus kembali ke fungsi aslinya. Melayani kepentingan rakyat. Bukan kepentingan segelintir elite.
Reklamasi tambang yang nyata. Industri yang kuat. BUMN yang efisien. Itulah mimpi Firnando untuk Indonesia masa depan.
Pertanyaan besar tetap menggantung: Akankah mimpi ini terwujud? Atau hanya akan menjadi retorika politik yang lain?