Strategi itu berhasil. Tubuh Agung, warga Desa Segeran, Kecamatan Juntinyuat, akhirnya bisa dievakuasi. Perjuangan belum selesai. Satu korban masih tersisa.
Lana Ditemukan 5 Kilometer dari Lokasi Kejadian
Tengah malam masih berlanjut. Pukul 00.30 WIB, tim SAR mendapat titik terang. Muhammad Lana Wiratno ditemukan. Lokasinya: Blok Gandok, Desa Panyindangan Kulon.
Jaraknya mencapai lima kilometer. Dari titik awal kejadian di bendungan. Arus memang sangat kuat hari itu. Jasad terseret jauh mengikuti aliran sungai.
Lana adalah warga Desa Terusan, Kecamatan Sindang, Indramayu. Mahasiswa yang masih muda belia. Cita-citanya kini terkubur bersama arus sungai.
"Dengan ditemukannya kedua korban, operasi SAR kami tutup secara resmi," ucap Eddy. Nada lega bercampur duka terdengar jelas.
Kedua jenazah langsung dievakuasi. Dibawa ke RSUD Indramayu untuk identifikasi. Sebelum akhirnya diserahkan ke keluarga masing-masing.
Rafting: Olahraga Ekstrem atau Aktivitas Berisiko Tinggi?
AKP Asep Suryana, Kasat Polairud Polres Indramayu, mengkonfirmasi kronologi kejadian. Tim langsung bergerak saat laporan masuk. Perahu terbalik di sungai.
"Semua korban anggota Mapala Polindra. Kami terima laporan langsung ke lokasi," ujar Asep kepada awak media, Minggu, 9 November 2025.
Pertanyaan besar kini muncul. Seberapa aman kegiatan rafting mahasiswa? Apakah SOP keselamatan sudah diterapkan maksimal? Pengawasan dari kampus seperti apa?
Rafting memang olahraga menantang. Adrenalin memompa saat melawan arus. Namun risiko selalu mengintai. Apalagi di sungai dengan arus tak terprediksi.
Tragedi ini jadi pengingat keras. Bukan hanya buat Mapala Polindra. Tapi seluruh komunitas pecinta alam di Indonesia. Keselamatan harus nomor satu.
Peralatan standar wajib diperiksa. Pelatihan intensif perlu ditingkatkan. Evaluasi kondisi alam sebelum turun ke sungai jadi keharusan. Jangan sampai semangat petualangan justru mengorbankan nyawa.
Ucapan Terima Kasih untuk Tim Penyelamat