Eddy menyampaikan apresiasi mendalam. Kepada seluruh unsur yang membantu. Pencarian dua hari itu bukan usaha mudah.
BPBD bekerja maksimal. Polairud terjun langsung. Tagana, Karang Taruna Garda Sakti, hingga ERT tak kenal lelah. Yang paling mengesankan: warga sekitar.
Masyarakat lokal turun tangan. Membantu pencarian dengan pengetahuan lokal mereka. Mengenai karakter sungai. Titik-titik berbahaya. Pola arus saat musim tertentu.
Solidaritas itu jadi satu-satunya cahaya di tengah tragedi kelam. Membuktikan kemanusiaan masih hidup. Di tengah arus yang kejam menelan nyawa.
Kini dua keluarga berduka. Kampus Polindra kehilangan dua mahasiswanya. Komunitas Mapala berkabung. Sungai Cimanuk tetap mengalir. Tak peduli air mata yang tumpah di tepiannya.
Tragedi ini mengingatkan: alam tak bisa ditaklukkan. Hanya bisa dihormati. Keselamatan bukan pilihan. Tapi kewajiban yang tak bisa ditawar. Semoga dua arwah ini tenang di sisi-Nya. Dan jadi pelajaran berharga bagi kita semua.
Artikel Terkait
Drama 6 Hari Pencarian Bilqis, Balita yang Raib dari Taman Makassar Ditemukan di Jambi - Pelaku Ngaku Jual Anak Rp 3 Juta
Proyek Monumen Reog Ponorogo Masuk Radar KPK, Dugaan Penyimpangan Mulai Dibedah
Redenominasi Rupiah 1000 Banding 1, Bukan Lagi Soal Cetak Uang - Tapi Ubah Miliaran Baris Kode
Prabowo Anugerahi 10 Tokoh Gelar Pahlawan Nasional, Soeharto dan Gus Dur Masuk Daftar
Air Mata Kebahagiaan Sambut Kepulangan Bilqis, Balita Makassar Korban Penculikan di Taman Pakui Sayang