Dalam dua hingga tiga minggu mendatang, tim reformasi akan mengundang partisipasi masyarakat. Reformasi tidak bisa berjalan di ruang vakum. Publik harus terlibat. Pengawasan dari luar jadi kunci.
"Kami akan mengundang partisipasi masyarakat (dalam) dua sampai tiga minggu ke depan," imbuh Mahfud.
Strategi terbuka ini menarik. Biasanya reformasi institusi berjalan tertutup. Kali ini berbeda. Mahfud ingin transparansi penuh. Melibatkan mata publik dalam setiap langkah.
Musuh atau Mitra: Bagaimana Pendekatan Tim Reformasi?
Mahfud menegaskan satu hal penting. Tim reformasi bukan musuh Polri. Mereka datang sebagai mitra. Kolaborasi, bukan konfrontasi.
"Tim ini tidak datang sebagai musuh," ucap Mahfud lugas. "Kalau datang sebagai musuh pasti tidak akan efektif, maka kita bicara ketemulah dari hati-hati."
Pendekatan ini strategis. Reformasi dari luar sering gagal karena resistensi internal. Polri punya kultur korp yang kuat. Serangan frontal hanya akan memicu pembelaan diri.
Mahfud paham dinamika ini. Ia memilih jalan tengah. Duduk bersama, bicara terbuka. Dari hati ke hati, katanya. Bukan dari mulut ke telinga.
Namun kolaborasi bukan berarti kompromi terhadap masalah. Mahfud tetap tegas soal target. Tiga bulan bukan negosiasi. Itu deadline.
Kritik Tanpa Solusi: Apakah Publik Siap Berpartisipasi?
Mahfud juga melempar tantangan ke publik. Jangan hanya mengkritik. Berikan solusi konkret.
"Masyarakat disilakan bicara dan memberi solusi, jangan hanya ngeritik, lho," tegas Mahfud. "Kalau ngeritik bahwa di polisi banyak pemerasan, gitu, semua orang sudah tahu, tapi kenapa ini terjadi."
Pernyataan ini menyentuh titik sensitif. Kritik terhadap Polri memang marak. Media sosial penuh celaan. Tapi solusi? Jarang ada yang menawarkan.
Mahfud ingin mengubah dinamika ini. Ia tidak menolak kritik. Justru menyambut. Tapi kritik harus produktif. Harus membawa ide perbaikan.
Pertanyaan "kenapa ini terjadi" jadi krusial. Pemerasan bukan terjadi tanpa sebab. Ada sistem yang memfasilitasi. Ada kultur yang membiarkan. Publik yang kritis harus juga publik yang analitis.