Sulawesitoday - Perahu kecil bermotor itu bergetar hebat. Arus sungai masih ganas. Petugas BPBD Nagan Raya nekad menerjangnya. Di atas perahu, tumpukan kardus logistik hampir menutupi pandangan. Satu gerakan salah, semua bisa tenggelam. Tapi mereka tak punya pilihan lain.
Ahad pagi (30/11/2025), di Desa Blang Meurandeh, Beutong Ateuh Banggalang, pemandangan itu menjadi satu-satunya harapan. Di seberang sungai yang mengamuk, ratusan warga menunggu. Mereka terisolir empat hari. Akses jalan putus total. Jembatan penghubung sudah tak tersisa.
Sebanyak 2.109 jiwa kini bergantung pada perahu-perahu kecil itu. Mereka butuh air mineral, mie instan, beras, minyak goreng, hingga kebutuhan bayi. Pemerintah Kabupaten Nagan Raya bersama TNI/Polri dan stakeholder terus menyuplai bantuan. Tikar dan selimut juga dikirim untuk para pengungsi yang kehilangan tempat tinggal.
Mengapa Warga Terisolir Berhari-hari?
Jawabannya sederhana namun mengerikan. Jembatan penghubung di jalur lintas tengah Nagan Raya-Aceh Tengah lenyap. Rabu (26/11) lalu, banjir bandang menerjang dengan kekuatan luar biasa. Struktur beton yang selama ini menjadi nadi transportasi itu roboh dalam hitungan jam. Kendaraan roda dua maupun roda empat tak bisa melintas. Warga di seberang sungai otomatis terkunci.
Situasi makin rumit. Arus sungai belum reda sepenuhnya. Petugas harus ekstra hati-hati saat menyeberang. Satu perahu hanya mampu mengangkut logistik terbatas. Prosesnya berulang, menguras tenaga dan nyawa dipertaruhkan setiap kali.
Koordinasi multipihak menjadi kunci operasi ini. Pemkab Nagan Raya memimpin komando. TNI dan Polri turun langsung ke lapangan. Stakeholder lokal menyumbang tenaga dan sumber daya. Distribusi logistik dilakukan bertahap, memprioritaskan bayi, anak-anak, dan lansia yang paling rentan.
Berapa Besar Kerusakan yang Ditimbulkan?
Angka-angkanya mencengangkan. Sebanyak 250 rumah warga hilang tersapu arus. Bukan rusak, tapi benar-benar lenyap tanpa jejak. Dinding, atap, perabotan—semuanya terbawa ke hilir. Selain itu, ruas jalan utama hancur parah. Sekolah dan masjid juga tak luput dari amukan air.
Total 2.156 jiwa dari 714 kepala keluaga terpaksa mengungsi. Mereka kini tersebar di posko-posko darurat yang didirikan pemerintah daerah. Kondisi di pengungsian jauh dari nyaman. Ruang terbatas, fasilitas seadanya, trauma psikologis menghantui.
Bencana ini dimulai Rabu sore empat hari lalu. Hujan deras mengguyur wilayah hulu selama berjam-jam. Volume air meluap dengan cepat. Dalam sekejap, gelombang setinggi tiga meter menyapu pemukiman. Warga hanya sempat lari menyelamatkan diri. Harta benda terabaikan.
Kini, saat arus mulai mereda, tantangan baru muncul. Bagaimana membangun kembali infrastruktur yang hancur? Berapa lama warga harus bertahan di pengungsian? Apakah jembatan bisa diperbaiki sebelum musim hujan berikutnya datang?
Petugas BPBD yang menerjang arus deras itu mungkin tak memikirkan jawaban rumit tersebut. Mereka hanya fokus pada misi sederhana: antarkan logistik, selamatkan nyawa. Perahu demi perahu terus melintasi sungai yang belum sepenuhnya jinak. Di tengah kehancuran, itulah wajah kemanusiaan yang sesungguhnya.
Baca Juga: Surat Viral Bupati Aceh Tengah Akui Kewalahan Tangani Bencana, BNPB Buka Akses Senin Ini