Apakah Fenomena Indigo Diterima dalam Operasi SAR?
Kontroversi tak terelakkan. Sebagian pihak menolak mentah-mentah. "Ini tidak ilmiah," kata beberapa akademisi. Mereka menuntut prosedur standar berbasis teknologi. Ground penetrating radar. Anjing pelacak. Drone thermal imaging.
Namun di lapangan, realitas berbeda. "Kami tidak menggantungkan semuanya pada Rival," jelas Mustangin. "Dia hanya memberikan informasi tambahan." Keputusan akhir tetap di tangan tim SAR profesional.
Rival sendiri tak minta bayaran. Ia datang sukarela. Orang tuanya mendampingi selama operasi. "Saya hanya ingin membantu," ujar Rival dengan suara lirih. Matanya menyiratkan beban yang berat.
Psikolog pendamping mencatat kondisi mental Rival. "Ia melihat hal-hal traumatis," ungkap dr. Siti Nurhaliza, psikolog relawan. "Perlu pendampingan khusus setelah ini." Kemampuan indigo bukan tanpa konsekuensi psikologis.
Data BNPB mencatat 21 korban meninggal dalam longsor Cibeunying. Dua orang masih dinyatakan hilang saat operasi SAR resmi dihentikan. Rival membantu menemukan 7 dari 21 korban tersebut. Kontribusi yang tak bisa diabaikan begitu saja.
Fenomena bocah indigo dalam bencana bukan kali pertama. Tahun 2018, longsor Ponorogo juga melibatkan anak dengan kemampuan serupa. Hasil bervariasi. Ada yang akurat, ada yang meleset. Tidak ada standar baku dalam fenomena ini.
Mustangin menutup kesaksiannya dengan refleksi. "Kami terbuka terhadap segala bantuan," katanya. "Selama tidak merugikan dan mempercepat pencarian." Pragmatisme di tengah tragedi.
Di balik kontroversi, satu hal jelas. Keluarga korban mendapat kepastian lebih cepat. Proses pemakaman bisa dilaksanakan. Kesedihan mendapat titik penutup, meski luka tak pernah hilang sepenuhnya.
Rival kini kembali ke sekolahnya. Kehidupan normal menanti. Namun ingatan operasi SAR akan terus menghantui. Wajah-wajah korban yang ia "lihat" tidak mudah dilupakan. Beban yang harus ditanggung seorang bocah 15 tahun.
Pertanyaan etis pun muncul. Apakah pantas melibatkan anak dalam operasi seserius ini? Apakah keakuratan informasi membenarkan potensi trauma psikologis? Jawaban belum ditemukan. Debat akan terus berlanjut.
Yang pasti, dalam situasi genting seperti bencana longsor, batas antara skeptisisme dan pragmatisme menjadi tipis. Tim SAR dihadapkan pada pilihan sulit: menolak bantuan non-konvensional demi protokol, atau menerima segala kemungkinan demi menyelamatkan waktu?
Rival Altaf menjadi simbol dilema tersebut. Bocah dengan kemampuan yang tak bisa dijelaskan sains. Namun hasilnya berbicara dalam bahasa fakta. Tujuh keluarga mendapat kepastian berkat informasinya. Angka yang sulit dibantah.
Dalam pusaran kontroversi antara keyakinan dan skeptisisme, satu pertanyaan mendasar tersisa: dalam pencarian kebenaran dan keadilan bagi korban bencana, sejauh mana kita bersedia membuka pikiran terhadap hal-hal yang berada di luar pemahaman konvensional?
Baca Juga: Zulkifli Hasan Dibidik Jadi Biang Kerok Banjir Sumatera, Begini Pembelaannya