• Selasa, 21 Juli 2026

Erni Sitorus Bertemu Mantan Napi Korupsi, KPK Diam Seribu Bahasa - Aktivis Desak Pemanggilan

.
Muhammad Aqil Azizi, Sulawesi Today
- Selasa, 2 Desember 2025 | 18:51 WIB
Ketua DPRD Sumut bertemu eks koruptor, posting di Instagram. KPK belum panggil. Aktivis desak tindakan tegas. Kepercayaan publik diuji.
Ketua DPRD Sumut bertemu eks koruptor, posting di Instagram. KPK belum panggil. Aktivis desak tindakan tegas. Kepercayaan publik diuji.

Sulawesitoday - Sudah lebih dari enam bulan berlalu. Ketua DPRD Sumatera Utara Erni Ariyanti Sitorus masih bebas berkeliaran. KPK belum juga memanggilnya. Padahal, jejak digitalnya terekam jelas: foto bersama mantan napi korupsi.

Postingan Instagram pada 25 Mei 2025 itu bukan sekadar unggahan biasa. Di sana, Erni terlihat duduk akrab dengan Chaidir Ritonga—nama yang pernah menghiasi berita korupsi besar. Bukan cuma berdua. Ada pejabat Badan Gizi Nasional ikut hadir. Ruang kerja Erni jadi saksi bisu pertemuan itu.

Chaidir Ritonga sendiri bukan sembarang orang. Dia terpidana kasus suap. Kasusnya soal laporan pertanggungjawaban Pemprov Sumut periode 2012–2014. Sudah divonis. Sudah menjalani hukuman. Tapi jejaknya belum hilang dari ingatan publik.

Mengapa KPK Masih Diam?

Pertanyaan ini menggantung di udara. Edison Tamba dari Jaringan Pergerakan Masyarakat Bawah (Jaga Marwah) angkat bicara. Menurutnya, pertemuan itu mencurigakan. "Postingan instagram Erni Sitorus dengan koruptor kasus suap yang membahas program mulia Presiden RI Prabowo Subianto. Ini sudah parah sekali," tegasnya kepada Jaringan Promedia, Selasa 2 Desember 2025.

Bukan tanpa alasan Edison khawatir. Pertemuan Erni dengan eks koruptor terjadi di tengah investigasi yang masih berjalan. Konteksnya sensitif. Timingnya mencurigakan. Namun respons KPK? Nihil.

Edison mendesak lembaga antikorupsi itu segera bertindak. "Kalau KPK serius, Erni Sitorus harus dipanggil. Publik perlu tahu apakah pertemuan itu hanya agenda biasa atau ada urusan lain yang perlu dibuka," ujarnya tegas.

Kepercayaan Publik Mulai Terkikis

Kelambanan KPK bukan soal teknis semata. Ini soal kredibilitas. Ketika nama besar terlibat, proses hukum sering melambat. Edison menyebut fenomena ini berbahaya. "Kami tidak ingin pemberantasan korupsi berhenti di level teknis. Jangan sampai ada nama besar yang membuat proses ini melambat," katanya.

Publik memang butuh kejelasan. Sudah berbulan-bulan berlalu sejak postingan itu viral. Namun KPK seperti kehilangan jejak. Tidak ada pemanggilan. Tidak ada klarifikasi. Bahkan tidak ada pernyataan resmi.

Pertanyaannya sederhana: apa yang sebenarnya terjadi dalam pertemuan itu? Kenapa seorang ketua DPRD bisa duduk santai dengan mantan koruptor? Dan yang lebih penting, kenapa KPK membiarkan ini berlalu begitu saja?

Jejak Kasus Chaidir Ritonga

Untuk memahami urgensi pemanggilan Erni, kita perlu menengok kembali kasus Chaidir. Pria ini terbukti terlibat suap laporan keuangan Pemprov Sumut. Kasusnya bukan kasus kecil. Melibatkan uang negara. Melibatkan kepercayaan publik. Dan sudah ada vonisnya.

Chaidir sudah menjalani masa hukuman. Tapi dalam dunia korupsi, jejak tidak pernah benar-benar hilang. Jaringan tetap ada. Koneksi tetap terjalin. Dan pertemuan seperti ini menimbulkan tanda tanya besar.

Halaman:

Editor: Muhammad Aqil Azizi

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini