• Selasa, 21 Juli 2026

Operasi Lintas Negara Berhasil Tangkap Gembong Narkoba Dewi Astutik di Kamboja

.
Muhammad Aqil Azizi, Sulawesi Today
- Selasa, 2 Desember 2025 | 18:20 WIB
BNN berhasil tangkap buronan narkoba Dewi Astutik di Kamboja. Aktor utama jaringan Golden Triangle senilai 5 triliun rupiah.
BNN berhasil tangkap buronan narkoba Dewi Astutik di Kamboja. Aktor utama jaringan Golden Triangle senilai 5 triliun rupiah.

Sulawesitoday - Jaringan sindikat narkotika internasional kembali goyah. Badan Narkotika Nasional berhasil menangkap buronan kelas kakap, Dewi Astutik, di wilayah Sihanoukville setelah berbulan-bulan operasi senyap lintas negara. Perempuan dengan sederet alias—Par, Kak Jinda, Dinda—ini kini telah diekstradisi ke Indonesia untuk mempertanggungjawabkan perannya dalam jaringan perdagangan narkotika Asia-Afrika.

Penangkapan yang diumumkan Selasa, 2 Desember 2025, ini melibatkan kolaborasi intensif antara BNN, Interpol, Kepolisian Kamboja, KBRI Phnom Penh, hingga Badan Intelijen Strategis TNI. Kepala BNN, Komjen Suyudi Ario Seto, menyebut operasi ini sebagai tonggak penting dalam pembongkaran sindikat Golden Triangle yang selama ini beroperasi dengan jaringan terselubung.

"BNN Republik Indonesia berhasil menangkap DPO kasus narkotika bernama Par alias Dewi Astuti alias Kak Jinda di Kamboja," ujar Ario dalam konferensi pers. Setibanya di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, tersangka langsung diamankan untuk proses hukum lebih lanjut.

Siapa Dewi Astutik dan Mengapa Ia Begitu Diburu?

Dewi Astutik bukan nama asing dalam radar keamanan regional. Perempuan ini diduga menjadi aktor utama penyelundupan 2 ton sabu dengan nilai fantastis: 5 triliun rupiah. Angka yang tidak main-main. Jaringan yang ia kendalikan bukan sekadar lokal, melainkan menjangkau kawasan Golden Triangle—segitiga emas produksi narkoba Asia Tenggara.

"Berdasarkan hasil analisa, ada dua nama utama asal Indonesia yang mendominasi Golden Triangle," ungkap Ario. "Yakni Fredy Pratama dan Par alias Dewi Astuti ini."

Nama Dewi muncul dalam berbagai operasi penyitaan besar. Perannya bukan hanya sebagai pemasok. Ia juga berperan sebagai rekruter untuk jaringan yang lebih luas, menghubungkan sindikat Asia hingga Afrika. Bahkan, Korea Selatan mencatatnya sebagai buronan dalam kasus perdagangan narkotika internasional.

Jaringan Asia-Afrika: Seberapa Luas Jejak Dewi?

Tidak banyak pelaku narkotika lokal yang namanya tercatat di beberapa negara sekaligus. Dewi Astutik adalah pengecualian. Menurut BNN, perempuan ini menjadi penghubung utama antara produsen sabu di kawasan Golden Triangle dengan pasar gelap di Afrika dan negara-negara Asia lainnya.

"Selain sebagai pemasok, Par juga rekruter dari jaringan perdagangan narkotika Asia-Afrika," jelas Ario. "Ia juga DPO negara Korea Selatan."

Posisi strategis Dewi dalam rantai distribusi membuatnya menjadi target prioritas. Penangkapannya diharapkan memutus aliran narkoba senilai triliunan rupiah yang setiap tahunnya mengancam jutaan nyawa di berbagai benua.

Penyelamatan 8 Juta Jiwa: Dampak Nyata dari Operasi Ini

Operasi besar yang berujung pada penangkapan Dewi juga mengungkap penyelundupan 2 ton sabu yang berhasil digagalkan. Menurut hitungan BNN, satu kilogram sabu mampu merusak sekitar 4.000 jiwa. Artinya, penyitaan 2 ton sabu setara dengan penyelamatan kurang lebih 8 juta jiwa dari ancaman kecanduan dan kehancuran.

"Penangkapan 2 ton sabu tersebut menyelamatkan sekitar 8 juta jiwa," tegas Ario. Angka ini bukan sekadar statistik. Ia mewakili keluarga yang terhindar dari kehancuran, generasi muda yang terlindungi dari jerat narkoba, dan masa depan yang tidak tercuri oleh zat haram.

Halaman:

Editor: Muhammad Aqil Azizi

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini