Terobosan terbaru datang dari Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2024 tentang Kesejahteraan Ibu dan Anak (KIA). Aturan ini revolusioner. Cuti melahirkan diperpanjang hingga enam bulan penuh.
Rinciannya begini: tiga bulan pertama otomatis. Tiga bulan berikutnya dengan syarat surat keterangan dokter. Fleksibilitas ini memberi ruang bagi kondisi medis khusus.
Dengan aturan terbaru ini, Novia sebenarnya berhak libur sejak Oktober atau November 2025. Jauh sebelum insiden terjadi. Namun fakta menunjukkan dia masih aktif bekerja hingga Desember.
Ada yang salah dalam implementasi aturan ini. Entah dari sisi pekerja yang tidak tahu haknya, atau perusahaan yang tidak memberi informasi memadai. Atau kombinasi keduanya.
Apa yang Sedang Dilakukan Polisi Terkait Kasus Ini?
Pihak berwajib bergerak cepat. Penyelidikan langsung dilakukan pasca-insiden. Target utama: mengungkap penyebab dan mencari pihak bertanggung jawab.
Delapan saksi sudah diperiksa. Mereka berasal dari berbagai kalangan. Warga sekitar yang melihat kejadian. HRD yang tahu detail karyawan. Hingga jajaran manajemen puncak.
Polisi fokus pada beberapa aspek. Pertama, bagaimana api bisa membesar begitu cepat? Kedua, apakah ada kelalaian dalam sistem keselamatan? Ketiga, kenapa korban terjebak di lantau lima?
Pertanyaan krusial lain: apakah gedung memenuhi standar keselamatan kebakaran? Apakah ada jalur evakuasi memadai? Bagaimana sistem alarm dan sprinkler?
Insiden terjadi jam makan siang. Waktu yang ironis. Saat orang santai, bencana menerkam. Total 76 orang di dalam gedung saat itu. Angka yang cukup besar untuk sebuah kantor.
Dari jumlah tersebut, 54 berhasil selamat. Artinya, hampir 29 persen karyawan tewas. Persentase yang sangat tinggi untuk kebakaran gedung perkantoran modern.
Semua jenazah sudah diserahkan ke keluarga masing-masing. Termasuk Novia yang dibawa pulang ke Lampung. Proses pemakaman sudah selesai. Namun luka batin masih menganga.