Sulawesitoday - Banjir menyisakan duka. Tidak hanya materi yang lenyap. Keluarga pun tercerai-berai. Di Kecamatan Langkahan, seorang ibu harus menanggung beban berlipat ganda ketika sang suami menghilang ditelan banjir hampir tiga minggu lalu.
Kisah pilu ini mencuat ke publik setelah akun TikTok @TOKO DAMRY mengunggah video pada Senin, 15 Desember 2025. Rekaman singkat itu memperlihatkan kondisi pengungsian yang jauh dari layak. Rumah hancur total. Suami tak kunjung pulang. Anak mulai terserang penyakit.
"Sudah 20 hari suaminya hilang," begitu narasi dalam video yang langsung menyedot perhatian ribuan warganet. Angka dua puluh hari bukan sekadar hitungan waktu. Itu adalah dua puluh malam penuh kecemasan. Dua puluh pagi tanpa kepastian. Dua puluh kali sang ibu harus menjawab pertanyaan sang anak: "Bapak mana?"
Apa yang Terjadi dengan Sang Suami?
Hingga kini, keberadaan sang kepala keluarga masih misterius. Banjir bandang yang melanda Buket Dara Baro pada akhir November 2025 memang menyapu banyak hal dengan brutal. Rumah-rumah roboh dalam hitungan menit. Arus deras menghanyutkan apa pun yang dilaluinya.
Sang ibu tidak memiliki jawaban pasti. Tim pencarian belum memberikan kabar. Rumah yang menjadi saksi bisu kehidupan keluarga itu kini rata dengan tanah. Tidak ada yang tersisa. Bahkan kenangan dalam bentuk foto atau pakaian pun lenyap bersama derasnya air.
Di tengah ketidakpastian itu, kehidupan harus terus berjalan. Pengungsian menjadi "rumah" baru yang sesungguhnya tidak layak disebut rumah. Fasilitas minim. Privasi hampir tidak ada. Makanan seadanya.
Bagaimana Kondisi Sang Anak di Pengungsian?
Kondisi darurat di pengungsian mulai menggerogoti kesehatan anak-anak. Sang buah hati yang seharusnya dilindungi dalam kehangatan rumah, kini harus tidur di lantai dingin posko pengungsian. Udara lembab. Sanitasi buruk. Makanan bergizi terbatas.
"Anaknya sudah mulai sakit," tulis keterangan video yang mengiris hati itu. Batuk dan demam mulai menyerang. Tanpa sang ayah di sisi, sang ibu harus bolak-balik mencari bantuan medis. Obat-obatan langka. Tenaga medis kewalahan melayani ratusan pengungsi lain dengan keluhan serupa.
Beban ganda ini bukan hal yang ringan. Secara fisik, sang ibu harus mengurus segala kebutuhan anak sendirian. Secara mental, ia harus terus berpura-pura kuat di depan sang anak. Padahal dalam diamnya, kekhawatiran tentang nasib suami terus menggerogoti.
Apakah Ada Bantuan yang Datang?
Video yang viral itu menjadi jembatan antara penderitaan di lapangan dengan kepedulian publik. Komentar berdatangan. Banyak yang menawarkan bantuan. Beberapa relawan mengaku akan datang langsung ke lokasi.
Namun pertanyaan besarnya: apakah bantuan sporadis dari masyarakat cukup untuk mengatasi krisis berkepanjangan ini? Pemerintah daerah Aceh Utara sebenarnya telah mengucurkan bantuan darurat. Tapi jumlah korban yang masif membuat distribusi menjadi tidak merata.