berita

Dua Telur untuk 23 Jiwa, Kisah Miris Warga Aceh Tamiang Bertahan Hidup Saat Terisolir Banjir

Jumat, 19 Desember 2025 | 17:59 WIB
Kisah dramatis warga Aceh Tamiang berbagi 2 butir telur untuk 23 orang saat terisolir banjir 3 hari. Update korban: 1.068 meninggal."

"Padi tenggelam, hitam-hitam kami jemur, jadi beras hitam," jelasnya dengan enteng. "Dicuci bersih, dijemur, digiling. Jadilah beras untuk dimakan."

Beras hitam hasil modifikasi bencana itu mungkin tak sehat dan tak layak konsumsi. Namun di tengah kelaparan, pilihan itu lebih baik daripada kelaparan. Rasa pahit dan tekstur kasar beras hitam itu menjadi pengingat bahwa mereka masih hidup, masih bisa makan, masih bisa berharap.

Ini bukan pertama kalinya warga Aceh Tamiang harus beradaptasi dengan bencana. Wilayah ini memang rawan banjir setiap tahun. Namun banjir kali ini berbeda. Intensitasnya lebih tinggi. Kerusakannya lebih masif. Dan trauma yang ditinggalkan lebih dalam.

Aceh Tamiang: Dari 'Kota Zombie' hingga Darurat Kemanusiaan

Aceh Tamiang sempat disebut sebagai 'Kota Zombie' pasca banjir. Sebutan itu muncul karena kondisi kota yang gelap gulita di malam hari akibat listrik padam total. Mobil-mobil terbengkalai di jalan-jalan utama, tertimbun lumpur hingga setengah badan. Rumah-rumah tampak seperti reruntuhan dengan dinding berlumpur dan atap rusak. Jalanan sepi, hanya sesekali terlihat warga dengan wajah lelah mencari bantuan.

Pemandangan itu bukan hanya menakutkan secara visual, tetapi juga mengerikan secara psikologis. Warga yang selamat hidup dalam ketidakpastian. Apakah rumah mereka bisa diperbaiki? Apakah sawah mereka bisa ditanami lagi? Apakah anak-anak mereka bisa kembali sekolah? Pertanyaan-pertanyaan itu menggantung tanpa jawaban pasti.

Data terbaru dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per Jumat, 19 Desember 2025 pukul 10.50 WIB menunjukkan angka yang mengejutkan. Total korban meninggal dunia akibat banjir dan longsor di Sumatera mencapai 1.068 orang. Sebanyak 190 orang masih dinyatakan hilang. Lebih dari 7.000 orang mengalami luka-luka dengan tingkat keparahan bervariasi.

Khusus untuk Aceh, jumlah korban meninggal mencapai 456 orang dengan 31 orang masih hilang. Angka ini menempatkan Aceh sebagai provinsi dengan korban terbanyak dibandingkan Sumatera Utara (366 meninggal, 75 hilang) dan Sumatera Barat (246 meninggal, 84 hilang).

Kerusakan Infrastruktur Masif, 106 Ribu Rumah Rusak

Banjir dan longsor tidak hanya merenggut nyawa, tetapi juga menghancurkan infrastruktur. Di Aceh, 18 kabupaten terdampak dengan tingkat kerusakan yang bervariasi. Total 106.060 unit rumah warga mengalami kerusakan, mulai dari rusak ringan hingga rusak berat yang tak bisa ditempati lagi.

Aceh Tamiang dan Aceh Utara menjadi dua wilayah dengan dampak terparah. Ribuan rumah rusak berat. Sawah-sawah terendam lumpur setinggi meter. Jalan-jalan utama terputus. Jembatan roboh. Sekolah-sekolah rusak. Fasilitas kesehatan lumpuh. Kondisi ini membutuhkan dana rehabilitasi dan rekonstruksi yang tak sedikit.

Pemerintah pusat dan daerah telah mengalokasikan anggaran darurat untuk penanganan bencana. Namun proses pemulihan diprediksi memakan waktu berbulan-bulan, bahkan mungkin bertahun-tahun. Warga yang kehilangan rumah saat ini masih mengungsi di tempat-tempat darurat dengan fasilitas seadanya.

Baca Juga: Susi Pudjiastuti Sindir Gibran soal Starlink: Harusnya Dibawa, Bukan Sekadar Janji

Halaman:

Tags

Terkini