• Selasa, 21 Juli 2026

Dua Telur untuk 23 Jiwa, Kisah Miris Warga Aceh Tamiang Bertahan Hidup Saat Terisolir Banjir

.
Muhammad Aqil Azizi, Sulawesi Today
- Jumat, 19 Desember 2025 | 17:59 WIB
Kisah dramatis warga Aceh Tamiang berbagi 2 butir telur untuk 23 orang saat terisolir banjir 3 hari. Update korban: 1.068 meninggal."
Kisah dramatis warga Aceh Tamiang berbagi 2 butir telur untuk 23 orang saat terisolir banjir 3 hari. Update korban: 1.068 meninggal."

Sulawesitoday - Sebesar ruas jari. Itulah porsi telur yang didapat setiap orang ketika 23 warga Aceh Tamiang berbagi dua butir telur. Bukan karena pelit. Bukan pula karena pilihan. Melainkan karena itulah satu-satunya makanan yang tersisa ketika air banjir masih mengepung rumah mereka, isolasi memutus akses bantuan, dan harapan seolah tenggelam bersama lumpur setinggi atap.

Kisah ini bukan sekadar cerita bertahan hidup. Ini adalah potret nyata bagaimana warga di salah satu wilayah terparah terdampak banjir Sumatera akhir November lalu harus memutar otak demi sesuap makanan. Cerita yang mungkin tak pernah terbayangkan oleh mereka yang masih bisa membuka kulkas dengan leluasa.

Seorang warga yang enggan disebutkan namanya menceritakan momen dramatis itu dengan nada datar, seolah sudah terbiasa dengan kepahitan hidup. "Dua butir telur untuk kami makan 23 orang," ujarnya sambil memperagakan ukuran potongan telur yang hanya sebesar ruas jari kelingking. "Potong sekecil ini. Untuk rasa saja."

Kalimat sederhana itu menyimpan ironi mendalam. Rasa nikmat dari sepotong kecil telur menjadi kemewahan di tengah bencana. Filosofi hidup yang dipaksakan oleh keadaan: mensyukuri yang ada, sekecil apapun itu, karena esok hari bisa jadi lebih pahit.

Tiga Hari Terisolir, Makanan Habis, Harapan Menipis

Bagaimana rasanya terisolir selama tiga hari tanpa bantuan? Pertanyaan itu mungkin sulit dijawab bagi mereka yang tak pernah mengalaminya. Namun bagi warga Aceh Tamiang, tiga hari itu terasa seperti tiga minggu.

Air banjir yang masih tinggi memutus semua akses. Jalan-jalan terendam. Jembatan rusak. Komunikasi terputus. Bahkan helikopter bantuan pun kesulitan mendarat karena cuaca buruk dan medan yang berbahaya. Di tengah kondisi itu, persediaan makanan habis satu per satu.

"Kami makan seadanya," lanjut warga tersebut. "Kalau ada beras sedikit, dimasak encer jadi bubur biar kenyang lebih lama. Kalau ngak ada, ya minum air putih aja."

Dua butir telur yang mereka bagi untuk 23 orang itu didapat dari tetangga yang masih menyimpan sedikit persediaan. Solidaritas di tengah keterbatasan. Telur itu dipotong sekecil mungkin, dibagi rata, dan dimakan dengan nasi seadanya. Tidak ada lauk lain. Tidak ada sayur. Hanya sepotong kecil telur untuk merasakan sensasi protein di lidah.

Kondisi ini diperparah dengan kondisi lingkungan yang tak mendukung. Rumah-rumah masih terendam air cokelat kehitaman. Udara lembab dan berbau busuk. Nyamuk berterbangan. Beberapa warga mulai sakit karena kelelahan dan kelaparan. Anak-anak menangis meminta makanan yang tak ada. Para ibu hanya bisa memeluk erat, berharap bantuan segera datang.

Bantuan Datang, Padi Hitam Jadi Penyelamat

Setelah tiga hari yang terasa seperti neraka dunia, akhirnya bantuan mulai berdatangan. Relawan dan pemerintah mulai bisa menembus isolasi dan mengirimkan logistik darurat. Mie instan, air mineral, dan makanan kaleng menjadi anugerah yang disambut dengan syukur.

"Alhamdulillah, setelah tiga hari ada yang kirim bantuan," ujar warga itu dengan senyum lega. "Ada Indomie, lumayan. Ada air bersih juga."

Namun, cerita belum berakhir di situ. Kreativitas warga dalam bertahan hidup justru menunjukkan ketangguhan luar biasa. Sawah-sawah yang terendam banjir merendam padi yang hampir siap panen. Padi-padi itu berubah warna menjadi hitam karena terendam air banjir berhari-hari. Alih-alih dibuang, warga justru memanfaatkannya.

Halaman:

Editor: Muhammad Aqil Azizi

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini