berita

Banjir Lumpur Sapu Pancuran 13 Guci, Warganet Sorot Aktivitas di Lereng Slamet

Sabtu, 20 Desember 2025 | 23:29 WIB
Banjir bandang menerjang wisata Guci Tegal. Warganet kaitkan dengan dugaan penambangan dan kerusakan hutan di lereng Slamet.

Sulawesitoday - Air bercampur lumpur mengamuk. Kawasan wisata Guci luluh lantak. Sabtu sore, 20 Desember 2025, banjir bandang menyapu Pancuran 13 di Kecamatan Bumijawa, Kabupaten Tegal. Kolam air panas yang menjadi ikon wisata itu hilang ditelan arus. Jembatan kecil pun ikut terseret. Hujan deras memang turun, tapi warganet mempertanyakan hal lain.

Video viral menampilkan momen mengerikan itu. Air cokelat pekat mengalir deras menghantam area wisata. Unggahan akun media sosial @filosofis.id di Instagram memperlihatkan kekuatan alam yang mengerikan. Dalam hitungan menit, destinasi favorit warga Tegal berubah jadi lautan lumpur. "Sore ini, Sabtu 20/12, hujan dengan intensitas melanda beberapa wilayah dan menyebabkan banjir di sejumlah titik. Bahkan banjir bandang terjang objek wisata Guci Pancuran 13 Tegal," demikian narasi dalam unggahan tersebut.

Namun kejadian ini memicu perdebatan hangat. Media sosial dipenuhi komentar yang mengarah ke satu isu: kerusakan lingkungan di kawasan Gunung Slamet. Bukan sekadar bencana alam biasa, warganet mencurigai ada yang salah dengan kondisi hutan di lereng gunung tersebut.

Apa Kaitan Banjir dengan Kondisi Lereng Slamet?

Kolom komentar berubah jadi ruang kritik. Warganet saling berbagi pengalaman dan keresahan mereka. Akun @aufahuwai*** menulis pengalaman pribadinya ketika berkunjung ke kawasan atas Guci. "Di atas Guci itu ada pembabatan hutan untuk alih fungsi lahan. Banyak pohon ditebang dan ditanami sayuran. Saya pernah ke sana, miris banget," tulisnya.

Komentar itu mendapat sambutan luas. Puluhan warganet lain menambahkan cuitan serupa. Beberapa menyebut adanya aktivitas pertanian intensif yang menggeser fungsi hutan lindung. Pohon-pohon besar diganti tanaman semusim. Resapan air berkurang drastis. Saat hujan lebat tiba, tanah tak mampu menahan air.

Dugaan lain menyasar aktivitas penambangan. Akun @adi.riyant*** menulis singkat tapi tajam: "Gara-gara Gunung Slamet diganggu dengan penambangan." Komentar tersebut menggelitik keresahan lama. Isu penambangan di lereng Slamet memang bukan hal baru. Meski belum ada konfirmasi resmi, warganet menilai aktivitas ekstraktif turut merusak struktur tanah di kawasan tersebut.

Hutan yang gundul jadi sasaran utama. Ketika vegetasi hilang, tanah kehilangan pengikat alami. Air hujan langsung mengalir ke permukaan. Tanah tergerus, membawa material kasar dan halus. Hasilnya: banjir bandang bercampur lumpur yang merusak apapun di jalurnya.

Apa Penjelasan Resmi dari BPBD?

Badan Penanggulangan Bencana Daerah Jawa Tengah memberikan klarifikasi. Muhammad Chomsul, Kepala Bidang Kedaruratan BPBD Jawa Tengah, menyatakan curah hujan tinggi jadi pemicu utama. Intensitas hujan Sabtu sore itu memang luar biasa. Sungai meluap dalam waktu singkat. Air membludak dan menerjang kawasan wisata Guci tanpa sempat dicegah.

Chomsul menegaskan tidak ada korban jiwa. Evakuasi berjalan cepat. Pengunjung yang ada berhasil diselamatkan sebelum situasi memburuk. Namun kerugian material cukup signifikan. Kolam Pancuran 13 yang ikonik hilang sepenuhnya. Jembatan kecil penghubung antar spot wisata juga tersapu. Infrastruktur lain mengalami kerusakan parah.

Kawasan wisata kini ditutup sementara. BPBD menilai kondisi masih berbahaya bagi pengunjung. Potensi banjir susulan tetap ada selama cuaca belum stabil. Tim gabungan melakukan pengecekan menyeluruh untuk memastikan keamanan area sebelum dibuka kembali.

Meski BPBD menyebut curah hujan sebagai penyebab, publik tetap mempertanyakan faktor lain. Hujan deras memang terjadi setiap tahun. Tapi mengapa kali ini dampaknya begitu masif? Pertanyaan itu mengarahkan fokus ke kondisi hutan dan tata kelola lahan di lereng Gunung Slamet.

Baca Juga: Viral Video Anak Aceh Tolak Uang Relawan, Bagi Rambutan Gratis di Tengah Banjir

Tags

Terkini