berita

Di Kegelapan Malam, Warga Aceh Tamiang Lawan Lumpur Tanpa Alat Berat

Selasa, 23 Desember 2025 | 13:36 WIB
Puluhan warga Pematang Durian bersihkan jembatan pascabanjir di malam hari hanya dengan penerangan lampu mobil dan alat seadanya

Metode mereka mungkin primitif di mata teknologi modern. Tapi dalam situasi darurat, primitif seringkali lebih cepat dari pada canggih yang belum datang.

Solidaritas di Tengah Keterbatasan

Yang menarik dari aksi ini bukan hanya usaha fisiknya. Tapi semangat yang menyertainya.

Di sela-sela kerja keras, tawa masih terdengar. Teriakan penyemangat sesekali mengudara. "Ayo, sedikit lagi!" seru seorang bapak paruh baya sambil menyingkirkan ember lumpur ke pinggir jalan.

Anak muda dan orang tua bekerja berdampingan. Tak ada yang merasa lebih penting. Semua jadi pekerja kasar malam itu. Beberapa ibu bahkan turun membawakan air minum dan kopi panas untuk para pekerja yang mulai kedinginan.

Solidaritas semacam ini jarang terlihat di kota besar. Di sana, bencana sering dihadapi dengan keluhan dan menunggu. Di desa seperti Pematang Durian, bencana dihadapi dengan tindakan dan kebersamaan.

Bukan berarti mereka tak lelah. Video itu jelas memperlihatkan badan-badan yang mulai membungkuk. Napas yang mulai tersengal. Tapi tak ada yang berhenti sebelum target tercapai.

Target mereka malam itu? Bersihkan setidaknya setengah dari total panjang jembatan agar kendaraan ringan bisa mulai melintas esok hari.

Jembatan Sebagai Simbol Kebangkitan

Jembatan ini bukan sembarang jembatan. Ia dibangun lima tahun lalu dengan swadaya masyarakat setelah jembatan kayu lama rubuh. Mereka iuran, gotong royong membangunnya. Kini, mereka harus berjuang lagi untuk mempertahankannya.

Ada ironi dalam situasi ini. Infrastruktur yang dibangun dengan keringat sendiri, kini harus diselamatkan dengan keringat yang sama. Pertanyaan besarnya: sampai kapan pola ini terus berulang?

Namun warga Pematang Durian sepertinya tak punya waktu untuk memikirkan pertanyaan filosofis tersebut. Yang mereka tahu, besok pagi harus ada jalan. Bantuan harus bisa masuk. Anak-anak yang sakit harus bisa dibawa ke puskesmas.

Maka mereka terus bekerja. Bahkan ketika tubuh sudah protes.

Video yang diunggah akun @penguin.fittinghope itu dengan cepat menyebar. Ribuan komentar berdatangan. Sebagian besar memuji semangat warga. Sebagian lagi mempertanyakan di mana peran pemerintah.

Tapi bagi warga Pematang Durian, viral atau tidak viral, pekerjaan harus selesai. Komentar netizen tak akan menyingkirkan lumpur. Hanya tangan merekalah yang bisa.

Halaman:

Tags

Terkini