Penyelenggara pun tak mau kalah cerdik. PT Debindomulti Adhiswasti tahu betul cara memanjakan tamu. Direkturnya, Vibiadhi Swasti Pradana, sudah menyiapkan jurus "hospitality".
Bayangkan, ada 250 kamar hotel gratis disiapkan untuk para buyer kakap dari luar negeri. Tentu, bukan sembarang orang yang bisa tidur gratis di sana. Harus dikurasi dulu.
"Langkah ini diharapkan menjadi insentif konkret untuk menarik buyer baru," ungkap Vibiadhi.
Tak hanya itu, promosi TEI sudah merambah hingga ke Malaysia dan Australia. Ada kolaborasi dengan pameran global di sana. Saling tukar data buyer. Saling intip peluang.
Harapan dari Bawah
Di level pelaku usaha, antusiasme itu menular. Dendi Wibowo dari Aprindo sudah siap membawa UMKM binaannya. Dia ingin UMKM tidak hanya jago kandang, tapi benar-benar "naik kelas" menjadi eksportir.
Ada juga Adara, manajer muda dari PT Burden Eagle Indonesia. Dia punya saran yang tajam: akses data pengunjung harus lebih terbuka. Agar pelaku usaha bisa melakukan pendekatan ke calon pembeli jauh-jauh hari.
Begitulah TEI 2026. Sebuah hajat besar yang tidak hanya mengandalkan kemegahan gedung, tapi ketajaman strategi dagang.
Target sudah dipasang. Strategi sudah dijalankan. Kini tinggal menunggu, seberapa banyak dolar yang akan mendarat di bumi pertiwi pada Oktober mendatang.
Logika Gus Miftah di Colosseum, Berhenti Maksiat Semalam Saja Adalah Prestasi