berita

Mesra Tanpa Henti, Rahasia Dibalik Setianya Amerika Serikat Membela Israel

Senin, 2 Maret 2026 | 04:20 WIB
Temukan 3 alasan utama AS tetap setia mendukung Israel, dari lobi kuat AIPAC hingga aliansi militer strategis dalam serangan besar ke Iran 2026.

Sulawesitoday - Mengapa Amerika Serikat begitu setia kepada Israel? Padahal dunia sedang berteriak. Hubungan ini memang istimewa, istilahnya: special relationship. Sebuah aliansi strategis yang tak tergoyahkan sejak Amerika menjadi negara pertama yang mengakui kedaulatan Israel pada tahun 1948,.

Puncak kemesraan itu kembali terlihat nyata pada 28 Februari 2026.

Dunia dikejutkan oleh serangan udara besar-besaran ke wilayah Iran. Bukan serangan biasa. Serangan yang melibatkan kekuatan militer Israel dan Amerika Serikat ini berhasil menewaskan pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei,. Amerika dilaporkan menggunakan teknologi serangan udara canggih yang bahkan tidak terdeteksi oleh radar Iran. Markas besar Garda Revolusi Iran pun rata dengan tanah.

Kejadian ini semakin menegaskan posisi Israel bagi Washington. Ada tiga faktor besar yang selalu menjadi alasannya.

Pertama, soal kepentingan strategis. Di mata Amerika, Israel bukan sekadar sekutu ideologis, melainkan aset vital di kawasan Timur Tengah yang penuh gejolak namun kaya sumber daya. Israel berfungsi sebagai pangkalan militer Amerika yang tak bisa tenggelam di kawasan itu.

Mengapa AS dan Israel Serang Iran 28 Februari 2026? Ini Alasan Utamanya

Amerika bahkan memiliki komitmen hukum untuk menjaga Keunggulan Militer Kualitatif atau Qualitative Military Edge (QME) Israel,. Artinya, persenjataan Israel harus selalu lebih canggih dibandingkan negara-negara tetangganya. Itu sebabnya bantuan militer terus mengalir deras. Hingga tahun 2023 saja, total dana bantuan Amerika ke Israel sudah menembus angka 297 miliar dolar AS.

Kedua, faktor lobi politik dalam negeri. Di Washington, ada kelompok lobi yang luar biasa kuat: American Israel Public Affairs Committee (AIPAC). AIPAC sangat piawai menggalang dukungan di Kongres. Mereka memastikan suara para legislator tetap membela Israel, termasuk dalam mendukung kebijakan keras untuk melemahkan Iran sebagai ancaman utama di kawasan. Narasi yang dibangun selalu sama: melawan tirani Iran adalah kewajiban moral dan strategis.

Ketiga, kesamaan nilai. Israel selalu dipromosikan sebagai satu-satunya negara demokrasi liberal di Timur Tengah. Ada ikatan identitas yang dibangun bahwa Amerika dan Israel memiliki nilai kebebasan yang serupa.

Namun, di balik serangan militer yang perkasa itu, sejarah sedang mencatat perubahan besar di dalam negeri Amerika sendiri.

Angin mulai bergeser. Simpati publik Amerika terhadap Israel mulai luntur. Survei Gallup terbaru pada Februari 2026 menunjukkan fenomena pertama dalam sejarah sejak tahun 2001: warga Amerika kini lebih banyak bersimpati kepada Palestina (41 persen) dibandingkan kepada Israel (36 persen).

Opini publik kini terbelah. Kelompok generasi muda dan pendukung Partai Demokrat semakin vokal mengkritik bantuan militer tanpa syarat.

Apakah aliansi ini akan retak setelah serangan besar ke Iran? Belum tentu. Bagi elit politik di Washington, Israel tetaplah mitra intelijen dan militer yang terlalu berharga untuk dilepas begitu saja,. Begitulah dinamika negara adidaya. Kepentingan nasional seringkali berada di atas segalanya.

Langit Iran Diserang Israel dan US, Dubes Roy Soemirat Pastikan Nyawa WNI Jadi Prioritas Utama

Tags

Terkini