Sulawesitoday - Langit Teheran sedang tidak sunyi. Ada desing di sana. Ada ledakan di situ. Serangan militer gabungan itu akhirnya datang juga. Menyasar titik-titik penting di negeri Mullah itu.
Tapi, di tengah riuh rendah suara jet tempur dan dentuman, ada satu kesibukan lain yang tak kalah tenang: komunikasi. Inilah yang sedang dikerjakan habis-habisan oleh KBRI Teheran.
Angka resminya sudah jelas: 329 orang. Itulah jumlah Warga Negara Indonesia (WNI) yang terdata di sana hingga Sabtu siang. Mereka tersebar di berbagai kota. Tidak hanya di ibu kota.
Duta Besar RI untuk Iran dan Turkmenistan, Roy Soemirat, tidak mau kecolongan. Ia paham betul, dalam situasi genting seperti ini, informasi adalah oksigen. Tanpanya, kepanikan bisa lebih mematikan daripada proyektil itu sendiri.
"Konsentrasi KBRI Teheran saat ini adalah terus melakukan komunikasi dua arah dengan seluruh warga negara Indonesia yang ada di Iran, di seluruh kota," tegas Roy.
Kalimatnya pendek, tapi maknanya dalam: jangan sampai ada yang merasa sendirian.
Sejauh ini, hasilnya melegakan. Simpul-simpul WNI di berbagai penjuru Iran sudah dikontak satu per satu. Laporannya seragam: mereka aman. Belum ada ancaman langsung yang mengarah ke fisik para perantau kita.
Meski begitu, waspada tetap nomor satu. Di bawah langit yang sedang tidak bersahabat, kewaspadaan adalah tameng terbaik. Setiap WNI diminta proaktif. Jika ada pergerakan mencurigakan atau situasi memburuk di lingkungan sekitar, grup koordinasi harus segera berbunyi.
Koordinasi dengan Jakarta pun tak pernah putus. Kementerian Luar Negeri di Pejambon terus memantau layar perkembangan dari detik ke detik.
"Update-update selanjutnya akan diberikan secara berkala melalui Kementerian Luar Negeri, khususnya melalui juru bicara," tambah sang Duta Besar.
Bagi mereka yang sedang diuji nyalinya di sana, sebuah nomor hotline sudah disiagakan: +98 902 466 8889. Sebuah nomor pendek yang menjadi penyambung nyawa jika situasi berubah menjadi darurat.
Di Iran, politik sedang memanas. Di KBRI, dedikasi justru sedang membara.