Sulawesitoday - Trump sudah bicara. Tegas. Tanpa basa-basi. Hari Sabtu itu, 28 Februari 2026, dunia seolah berhenti berputar sejenak. Amerika Serikat dan Israel resmi melancarkan serangan besar-besaran ke Iran.
Nama operasinya ngeri: "Operation Midnight Hammer"—Palu Tengah Malam.
Pertanyaannya: Kenapa sekarang? Kenapa harus Sabtu itu?
Mari mencoba merangkai kepingan-kepingan alasannya. Ternyata, ini bukan kejadian mendadak. Ini adalah akumulasi dari rasa tidak sabar yang sudah memuncak.
Pertama, soal diplomasi yang mentok. Baru dua hari sebelumnya, perundingan nuklir di Jenewa berakhir buntu. Tidak ada terobosan. Amerika dan Israel merasa Iran hanya sedang mengulur waktu sambil terus memutar mesin sentrifugalnya.
Kedua, angka 83,7 persen. Ini angka keramat bagi para ahli nuklir. Badan Energi Atom Internasional (IAEA) melaporkan bahwa Iran sudah berhasil memperkaya uranium hingga kadar tersebut di fasilitas Fordow. Padahal, untuk bikin bom atom hanya butuh 90 persen. Amerika tidak mau ambil risiko. Trump menegaskan: Teheran tidak boleh punya senjata nuklir. Titik.
Ketiga, kondisi internal Iran yang sedang goyah. Sejak akhir Desember 2025, Iran didera gelombang protes besar. Ekonomi mereka jeblok. Harga pangan selangit. Mata uangnya terjun bebas. Trump melihat ini sebagai peluang emas. Beliau lewat media sosial Truth terang-terangan bilang siap "membantu" warga Iran melepaskan diri dari rezim yang dianggapnya brutal.
Bagi Israel, ini soal hidup dan mati. PM Benjamin Netanyahu menyebut serangan ini untuk "menghilangkan ancaman eksistensial". Beliau ingin memastikan Israel tetap menjadi satu-satunya kekuatan nuklir di kawasan tersebut.
Maka, palu itu pun dijatuhkan.
Israel menyerang lebih dulu. Lalu Amerika menyusul dengan kekuatan penuh. Saya membayangkan betapa mengerikannya 125 pesawat tempur, termasuk pengebom siluman B-2, terbang menuju sasaran. Mereka membawa "oleh-oleh" seberat 15.000 kilogram. Namanya bunker busters—bom penghancur bunker.
Sasarannya tidak main-main: fasilitas nuklir di Fordow, Natanz, dan Isfahan. Fordow itu unik. Letaknya jauh di bawah gunung. Memang dirancang agar tidak bisa ditembus bom biasa. Tapi "Palu Tengah Malam" punya cara lain untuk menghancurkannya.
Dunia kini menahan napas. Iran punya kartu truf yang sangat ditakuti: Selat Hormuz. Kalau selat itu ditutup, pasokan minyak dunia mampet. Ekonomi global bisa pingsan seketika.
Saya jadi merenung. Di balik adu kekuatan militer yang canggih ini, ada harga kemanusiaan yang sangat mahal. Di Minab, sebuah sekolah dasar putri terkena serangan. 40 nyawa anak-anak melayang. Mereka tidak tahu apa-apa soal uranium. Mereka tidak mengerti soal strategi geopolitik.
Sabtu malam itu, dunia berubah. Kita hanya bisa berharap, "Palu Tengah Malam" ini tidak menjadi awal dari kegelapan yang lebih panjang di Timur Tengah.
Artikel Terkait
Kenapa Iran Serang Israel? Ini Pemicu Perang Sesungguhnya
Teheran Bantah Klaim gencatan senjata Iran-Israel, Tel Aviv Membisu
DPR Jamin WNI di Zona Konflik Israel-Iran Tak Sendiri, Hotline Komunikasi Siap Menjembatani
Mengapa Trump Ciut? Ada Bayang-bayang Rusia dan China di Belakang Iran
Iran Tawarkan Teknologi Drone Mutakhir dan Siap Bangun Pabrik di Indonesia