• Senin, 20 Juli 2026

Iran Tawarkan Teknologi Drone Mutakhir dan Siap Bangun Pabrik di Indonesia

.
Nur Rafiqa, Sulawesi Today
- Senin, 16 Februari 2026 | 15:46 WIB
Iran tawarkan transfer teknologi drone untuk pertanian dan siap bangun pabrik di Indonesia guna memperkuat kemitraan strategis kedua negara
Iran tawarkan transfer teknologi drone untuk pertanian dan siap bangun pabrik di Indonesia guna memperkuat kemitraan strategis kedua negara

Sulawesitoday - Iran itu hebat. Hebatnya karena dipaksa hebat. Anda sudah tahu: sudah hampir 47 tahun negara itu dikurung sanksi berat oleh Amerika Serikat. Tidak bisa impor teknologi. Tidak bisa beli onderdil dari luar.

Hasilnya? Mereka malah jadi mandiri. Mereka bikin sendiri semuanya. Dari nol. Sampai punya teknologi canggih yang bikin dunia menoleh.

Kini, teknologi itu ditawarkan ke kita. Ke Indonesia.

Duta Besar Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, yang menyampaikannya langsung di Jakarta, Sabtu lalu. Beliau bilang, Iran siap bekerja sama. Bukan cuma jualan, tapi siap membangun pabrik drone di Indonesia.

Mendengar kata "drone", pikiran kita biasanya langsung ke urusan perang. Ke rudal. Ke ledakan. Tapi Dubes Boroujerdi meluruskan: drone itu bukan cuma untuk satu hal itu.

Drone Iran itu multifungsi. Bisa untuk pertanian. Bisa untuk memantau sektor ekonomi lainnya. Istilahnya: teknologi damai.

Iran memang lagi "naik daun" soal teknologi baru. Mereka unggul di banyak bidang: nanoteknologi, bioteknologi, nuklir (yang damai), hingga peralatan kesehatan dan pertanian. Semua itu dikembangkan sendiri oleh rakyatnya. Mereka punya "know-how"-nya.

Bagaimana teknisnya?

Sekarang kedua pihak—perusahaan Iran dan Indonesia—sedang menjajaki kerja sama. Negosiasinya lewat webinar dulu. Nanti ada delegasi yang datang ke Jakarta, atau orang kita yang ke Teheran.

Pihak Kedubes Iran di Jakarta sudah siap jadi jembatannya. Kalau ada perusahaan Indonesia yang berminat, jalannya sudah dibuka lebar.

Iran ingin menjadi mitra strategis. Mereka menawarkan transfer teknologi dan pengembangan sumber daya manusia.

Logikanya sederhana: kalau mereka bisa hebat karena "dikurung", kenapa kita yang tidak dikurung tidak bisa lebih hebat? Apalagi kalau mereka mau membagi ilmunya.

Tinggal kitanya: berani atau tidak? Mau atau tidak?

Sanksi memang pahit, tapi bagi Iran, itu adalah jamu untuk menjadi raksasa teknologi yang mandiri. Kini jamu itu ditawarkan ke kita dalam bentuk kerja sama.

Halaman:

Editor: Nur Rafiqa

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini