berita

Menteri Bahlil: Urus BBM Tak Bisa Sendiri, Perlu Gaya Terminal

Rabu, 1 April 2026 | 16:39 WIB
Bahlil Lahadalia gunakan logika sopir angkot ajak warga hemat BBM. Batasan 50 liter jadi kunci efisiensi energi di tengah gejolak geopolitik global.

Sulawesitoday - Ada gaya baru di Kementerian ESDM. Gaya sopir angkot. Namanya: Bahlil Lahadalia. Sang menteri kini sedang getol-getolnya mengajak rakyat mengerem injakan gas. Bukan karena jalanan macet, tapi karena urusan perut bumi dan geopolitik dunia yang lagi mulas.

Rabu kemarin, 1 April 2026, Bahlil naik panggung. Temanya berat: kebijakan pemerintah menyikapi kondisi global. Tapi bahasanya tetap bahasa terminal. Ia tidak bicara soal angka-angka rumit di awang-awang. Ia bicara soal isi tangki.

Dunia memang sedang tidak baik-baik saja. Sektor energi kena imbasnya. Pemerintah pun sadar, mengandalkan APBN saja tidak akan cukup untuk menahan beban subsidi yang terus membengkak.

"Dalam kondisi seperti ini tidak bisa pemerintah bekerja sendiri. Kita membutuhkan dukungan kerja sama dari masyarakat," tegas Bahlil.

Logika 50 Liter

Bahlil punya standar sendiri soal apa itu "wajar". Standar itu didapatnya bukan dari bangku kuliah, tapi dari balik kemudi angkutan umum bertahun-tahun lalu.

Menurutnya, konsumsi BBM harus bijak. Tidak perlu berlebihan. Ia pun melempar angka: 50 liter sehari. Bagi kendaraan pribadi, angka itu sudah masuk kategori mewah. Bahkan mungkin sudah tumpah-tumpah.

"Dalam pandangan kami sebagai mantan sopir angkot, wajar dan bijak itu kalau isi mobil satu hari 50 liter, itu tangki sudah penuh," jelasnya dengan nada meyakinkan.

Angka 50 liter itu kini menjadi semacam batas psikologis. Jika sebuah mobil pribadi menghabiskan lebih dari itu dalam sehari, patut dipertanyakan: itu mobil atau naga?

Digitalisasi dan Tepat Sasaran

Kementerian ESDM tidak hanya sekadar mengimbau. Ada perangkat yang disiapkan. Namanya MyPertamina. Lewat sistem digital inilah, distribusi BBM dipantau ketat agar tidak "bocor" ke pihak yang tidak berhak.

Langkah pembatasan 50 liter per hari untuk roda empat—seperti yang ramai diberitakan di Antara News dan MetroTVNews—bukanlah upaya untuk mematikan aktivitas warga. Justru sebaliknya. Ini adalah upaya agar subsidi tidak salah alamat.

Prinsipnya sederhana:

Efisiensi: Gunakan seperlunya.

Halaman:

Tags

Terkini