berita

Kisah Heroik Guru di Majene, Sisihkan Gaji Setiap Bulan Jadi Donatur Transportasi Murid

Minggu, 12 April 2026 | 05:17 WIB
Kisah haru di MTs GUPPI Majene: Para guru sukarela sisihkan gaji demi biaya transportasi siswa. Bukti nyata dedikasi di tengah keterbatasan anggaran.

Sulawesitoday - Sekolah itu bukan terminal. Tapi di MTs GUPPI Majene, urusan kendaraan jadi soal hidup mati kelangsungan pendidikan. Di sana, para guru tidak hanya menguras otak untuk mengajar, tapi juga menguras kantong untuk ongkos pulang murid-muridnya.

Sudah lama naskah klasik soal anggaran macet ini menghantui sekolah di Jalan KH. Daeng No. 42 itu. Madrasah di bawah naungan Yayasan GUPPI ini tidak punya pos anggaran transportasi. Nol.

Maka, terjadilah anomali yang mengharukan itu. Setiap bulan, para guru dan staf menyisihkan gaji mereka. Bukan untuk beli buku baru atau laptop canggih, tapi untuk donasi tetap ongkos pulang siswa.

"Pagi hari, orang tua masih sempat antar. Begitu jam pulang, anak-anak ini bingung. Tidak ada biaya," ujar Kepala MTs GUPPI Majene, Drs. Sayadi, Sabtu (11/4).

Inilah potret pendidikan kita yang paling telanjang. Guru-guru itu merasa tidak tega melihat muridnya luntung-lantung di pinggir jalan karena tidak punya uang saku untuk naik angkutan. Pilihan mereka cuma dua: biarkan anak itu bolos besok karena tidak bisa pulang, atau urunan membayar jasa transportasi.

Mereka memilih yang kedua.

Sayadi bercerita dengan nada datar, seolah ini sudah jadi menu harian yang lumrah. Padahal, secara logika ekonomi, ini berat. Gaji guru honorer atau staf madrasah swasta tentu tidak seberapa. Namun, kepedulian ternyata lebih tinggi dari angka-angka di atas slip gaji.

"Kami menyisihkan sebagian gaji. Kami tidak ingin kendala ekonomi buat anak-anak ini berhenti sekolah," tambahnya. Kalimatnya sederhana, tapi nampol.

Aksi gotong royong ini memang heroik, tapi sekaligus menyedihkan. Sampai kapan gaji guru harus mensubsidi kewajiban negara? Solusi ini ibarat menambal kapal bocor dengan telapak tangan. Pasti ada batasnya. Pegawai punya keluarga. Mereka juga punya dapur yang harus tetap mengepul.

Pihak sekolah sudah mulai was-was. Solusi "sedekah gaji" ini bukan jalan keluar jangka panjang. Daya tahan kantong para guru ada limitnya.

"Harapannya ada perhatian dari pemerintah. Entah itu fasilitas transportasi atau dukungan anggaran. Jangan sampai beban guru terus bertambah," harap Sayadi.

Mungkin pemerintah perlu belajar dari Majene. Tentang bagaimana mengelola empati di tengah keterbatasan. Tapi ya itu, jangan sampai kebaikan para guru ini justru dijadikan alasan bagi pengambil kebijakan untuk terus berpangku tangan.

Di MTs GUPPI, pendidikan ternyata bukan cuma soal transfer ilmu, tapi soal memastikan muridnya bisa sampai ke rumah dengan selamat. Meski harus dibayar dengan keringat dan sisa gaji yang kian menipis.

Sungguh, sebuah pengabdian yang melampaui kurikulum manapun.

Halaman:

Tags

Terkini