Sulawesitoday - Potensi itu ibarat gadis cantik yang sedang dipingit. Punya segalanya, tapi kalau tidak pandai bersolek, tidak akan ada pelamar yang datang membawa mahar. Begitulah gambaran investasi di Sulawesi Tengah saat ini. Khususnya di Kabupaten Parigi Moutong (Parimo).
Sabtu 11 April 2026, Auditorium Kantor Bupati Parimo mendadak riuh. Ada hajatan besar: Rapat Koordinasi Daerah (Rakorda) Dinas PMPTSP se-Provinsi Sulteng 2026. Semua orang penting kumpul. Ada perwakilan Gubernur, para Bupati, hingga Wali Kota se-Sulteng. Mereka bicara satu hal: bagaimana caranya agar uang mau masuk ke Sulteng.
Wakil Bupati Parimo, Abdul Sahid, tampil ke podium. Ia mewakili Bupati Erwin Burase yang berhalangan. Gayanya lugas, tidak bertele-tele. Tapi pesannya menohok.
"Daerah tidak lagi cukup hanya mengandalkan potensi. Kita harus mampu mengemas potensi itu menjadi peluang investasi yang nyata," tegas Abdul Sahid saat membacakan sambutan.
Kalimat itu sederhana, tapi berat di ongkos pelaksanaan. Parimo memang kaya. Sektor pertaniannya luas. Kelautan dan perikanannya melimpah. Pariwisatanya apalagi. Tapi jujur saja, selama ini semua itu masih sebatas angka-angka di atas kertas. Belum sepenuhnya terkonversi menjadi pabrik, lapangan kerja, atau investasi riil yang bisa dirasakan langsung di dompet masyarakat.
Sebenarnya, rapor Parimo tidak merah-merah amat. Malah cenderung "hijau royo-royo" jika melihat persentase. Bayangkan, realisasi investasi tahun 2025 melonjak sampai 365,16 persen. Melejit jauh melampaui target. Tapi di klasemen Sulteng, posisi Parimo masih di peringkat ke-5. Belum naik podium juara umum.
Inilah yang dikejar dalam Rakorda bertema “Berani Berusaha dengan Sinergitas Informasi dan Inovasi untuk Investasi Berkelanjutan” itu. Intinya: jangan kerja sendiri-sendiri.
"Investasi itu tidak mengenal batas administratif," ujar Sahid lagi.
Maksudnya jelas. Kalau satu kabupaten maju, yang lain harus ikut terseret naik. Bukan malah saling sikut cari investor. Pelayanan perizinan harus makin cepat, jangan lagi ada birokrasi yang bikin investor mutung sebelum menanam modal.
Pemerintah Kabupaten Parimo pun sudah pasang badan. Mereka berjanji bakal mendukung penuh kebijakan Provinsi untuk memperkuat sistem informasi investasi yang terbuka. Tidak boleh ada yang ditutup-tutupi. Semua harus terintegrasi.
Rakorda kali ini bukan sekadar ajang kumpul-kumpul dan makan siang bareng. Ada target besar: melahirkan langkah konkrit untuk promosi daerah. Tujuannya agar pemerataan investasi tidak hanya menumpuk di satu titik, tapi menyebar rata ke seluruh pelosok Sulteng.
Tantangannya sekarang tinggal satu: seberapa berani para birokrat ini melakukan eksekusi di lapangan? Sebab, investor tidak butuh pidato yang bagus. Mereka butuh kepastian dan kemudahan.
Kita tunggu saja, apakah rakor ini bisa mengubah potensi yang masih "malu-malu" itu menjadi kekuatan ekonomi yang benar-benar nambaso. Semoga saja bukan hanya sekadar seremoni rutin yang habis saat spanduk diturunkan. Karena di luar sana, rakyat sudah rindu melihat pelabuhan dan sawah mereka benar-benar jadi magnet uang.
Bukan Cuma Seremonial, HUT Parigi Moutong Diisi Gerakan Pangan Murah
Artikel Terkait
Bersama Tekan Inflasi, Gerakan Pangan Murah Serbu Alun-Alun Parigi Moutong
Bukan Cuma Seremonial, HUT Parigi Moutong Diisi Gerakan Pangan Murah
Cara Berbeda Cari Investasi, Anak Muda di Parigi Moutong Dipaksa Jadi 'Sales' Ekonomi Desa
Bocah 4 Tahun Tewas Tertimpa Trembesi di Kampal, Warga: Laporan Kami Diabaikan DLH!
Iuran BPJS Ketenagakerjaan Parigi Moutong Diskon 50 Persen, Marbot Masjid Kini Terlindungi