Sulawesitoday - Parigi Moutong (Parimo) lagi cantik-cantiknya. Jumat malam (10/04), Auditorium Kantor Bupati pecah. Bukan karena ada konser dangdut. Tapi karena ada anak-anak muda yang dipaksa jadi "sales" kelas berat. Namanya mentereng: Duta Promosi Investasi Sulawesi Tengah 2026.
Ini cara baru cari duit buat daerah. Biasanya urusan investasi itu urusan orang tua berjas di hotel bintang lima. Kali ini beda. Sulteng ingin investasi masuk lewat senyum anak muda dan semangat dari desa.
Bupati Parimo, H. Erwin Burase, terlihat sumringah. Wajar. Daerahnya jadi tuan rumah perdana. Pas pula dengan HUT ke-24 kabupaten itu. "Ini kado istimewa bagi kami di usia perak," kata Erwin. Dia tidak ingin kotanya cuma jadi penonton.
Selama ini kita ini memang agak aneh. Punya kakao dikirim mentah. Punya kelapa dikirim bulat-bulat. Yang kaya orang luar. Yang dapat ampasnya ya petani kita. Erwin ingin itu berhenti. Dia mau kakao jadi cokelat premium. Dia mau kelapa jadi kosmetik. Itulah yang namanya hilirisasi. Istilah kerennya: nilai tambah.
"Nilai tambah harus dinikmati oleh petani dan nelayan kita sendiri," tegasnya. Kalimat ini penting. Sangat penting. Biar tidak hanya korporasi besar yang makin gemuk.
Kepala DPMPTSP Sulteng, Moh. Rifani Pakamundi, bawa data yang bikin kuping panas. Positif panasnya. Sulteng sekarang nangkring di peringkat ke-5 tujuan investasi nasional. Bahkan nomor wahid untuk urusan hilirisasi.
Maka, 34 finalis yang malam itu tampil bukan cuma modal tampang. Ada Moh. Abid T. Akase dari Toli-Toli dan Zaskia Felisha asal Morowali yang akhirnya jadi juara. Mereka ini pionir. Jembatan. Tugasnya berat: meyakinkan dunia kalau durian Parimo itu layak ekspor dan pariwisatanya bukan kaleng-kaleng.
Ada sedikit yang unik di Parimo. Mereka kirim 6 wakil. Fokusnya jelas: Durian, Pariwisata, dan Kemandirian Desa. Mereka sadar betul, kalau desa mandiri, kabupaten tidak perlu mengemis ke pusat.
Erwin Burase pun menitipkan tiga pesan. Hilirisasi desa, mitra strategis, dan investasi hijau. Intinya: pabrik harus dekat sawah, petani harus punya posisi tawar, dan alam tidak boleh rusak. Sederhana, tapi prakteknya itu yang susah.
Malam itu ditutup dengan tepuk tangan panjang. Sulteng seolah ingin teriak ke Jakarta: kami bukan lagi sekadar penonton ekonomi global. Kami pemainnya. Dari desa, untuk dunia.
Selamat ulang tahun ke-24, Parigi Moutong. Maju terus Sulteng. Jangan lupa, hilirisasi jangan cuma jadi mantra di atas panggung, tapi harus sampai ke dapur warga. Begitulah.
Bukan Cuma Seremonial, HUT Parigi Moutong Diisi Gerakan Pangan Murah
Artikel Terkait
Tak Lagi Berenang ke Sekolah, Jembatan Siswa SD Bainaa Barat Mulai Dibangun TNI
Luwuk Tak Lagi Sekadar Ide: Kampus AMIK dan STT Star’s Lub Kini Punya Pagar Hukum
HUT ke 24 Parimo: IPM Naik dan Kemiskinan Turun, Anwar Hafid Ingatkan Ekonomi yang Melambat
Bersama Tekan Inflasi, Gerakan Pangan Murah Serbu Alun-Alun Parigi Moutong
Bukan Cuma Seremonial, HUT Parigi Moutong Diisi Gerakan Pangan Murah