• Selasa, 21 Juli 2026

HUT ke 24 Parimo: IPM Naik dan Kemiskinan Turun, Anwar Hafid Ingatkan Ekonomi yang Melambat

.
Muhammad Aqil Azizi, Sulawesi Today
- Jumat, 10 April 2026 | 14:21 WIB
Gubernur Anwar Hafid pimpin HUT ke-24 Parimo. IPM naik & kemiskinan turun jadi 13,51%, namun ia beri catatan tegas soal perlambatan ekonomi tahun 2025.
Gubernur Anwar Hafid pimpin HUT ke-24 Parimo. IPM naik & kemiskinan turun jadi 13,51%, namun ia beri catatan tegas soal perlambatan ekonomi tahun 2025.

Sulawesitoday - Angka-angka itu bicara banyak. IPM naik. Kemiskinan merosot. Tapi pertumbuhan ekonomi justru mengirim sinyal kuning: melambat. Di usia 24 tahun, Kabupaten Parigi Moutong (Parimo) memang sedang dalam fase paling krusial: tumbuh dewasa di tengah impitan tantangan makro yang tidak sederhana.

Jumat 10 April 2026, matahari di Lapangan Kantor Bupati Parimo terasa lebih dari sekadar hangat. Gubernur Sulawesi Tengah, Anwar Hafid, berdiri di sana. Memimpin upacara. Mengenakan seragam kebesaran. Agenda resminya: HUT ke-24 Parimo. Namun, substansi pidatonya jauh melampaui seremoni potong tumpeng.

Ia datang membawa rapor. Isinya campur aduk. Ada yang biru, ada yang perlu dikoreksi.

"Di usia ke-24 tahun ini, saya percaya Parigi Moutong akan semakin matang dan mandiri," ucap Anwar Hafid. Kalimatnya mantap. Khas politisi yang tahu cara menyuntikkan optimisme.

Mari kita lihat datanya. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Parimo tahun 2025 nangkring di angka 69,99. Hampir menyentuh angka psikologis 70. Tahun sebelumnya masih 69,48. Artinya, urusan sekolah, kesehatan, dan urusan isi perut masyarakat di sana menunjukkan tren membaik.

Yang lebih kinclong adalah angka kemiskinan. Turunnya bukan main-main. Dari 14,20 persen menjadi 13,51 persen. Bayangkan, dalam setahun, sekitar 1.630 jiwa berhasil keluar dari jerat garis kemiskinan. Itu prestasi. Kerja keras yang membuahkan hasil nyata di lapangan.

Tapi, Anwar Hafid bukan tipe pejabat yang hanya mau bicara yang manis-manis saja. Ia memberi catatan tebal. "Perlambatan ekonomi pada tahun 2025 menjadi catatan penting," tegasnya.

Logikanya sederhana: kalau orang miskin berkurang tapi ekonomi melambat, berarti ada yang harus diperbaiki dalam struktur distribusinya. Harus lebih inklusif. Jangan sampai yang kaya makin melesat, yang di bawah hanya jalan di tempat.

Anwar pun menawarkan obatnya: Program "9 Berani". Isinya komplit. Mulai dari berani cerdas sampai berani berintegritas. Ia ingin Parimo tidak cuma jadi penonton dalam peta pembangunan Sulawesi Tengah. Apalagi Parimo punya garis pantai yang panjangnya minta ampun. Tanahanya subur. Ikan melimpah.

Gubernur juga sempat menyinggung soal uang. Soal Pendapatan Asli Daerah (PAD). Matanya tertuju pada potensi pajak air permukaan, bahan bakar, hingga alat berat. Bahkan soal Participating Interest (PI) 10 persen yang sering jadi rebutan itu.

Belum lagi soal Fornas IX tahun 2027. Itu peluang besar.

Di sela-sela sambutan, Anwar mengingatkan agar semua pihak tidak jalan sendiri-sendiri. DPRD, pelaku usaha, hingga tokoh adat harus satu irama. "Hanya dengan semangat bersama dan sinergi lintas sektor, Parigi Moutong dapat melangkah lebih cepat," tambahnya.

Membangun daerah memang bukan seperti membalik telapak tangan. Apalagi di kabupaten sesetratis Parimo. Butuh napas panjang. Butuh eksekusi yang presisi.

Upacara selesai. Naskah pidato dilipat. Tapi tantangan didepan mata masih membentang. Parimo sudah 24 tahun. Sudah bukan balita lagi. Sudah waktunya berlari lebih kencang, meski ditengah perlambatan ekonomi global yang mengintai.

Halaman:

Editor: Muhammad Aqil Azizi

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini