Sulawesitoday - Bantaran Sungai Desa Tanahlanto itu mendadak ramai. Hari ini bukan soal proyek beton. Bukan soal aspal. Wakil Bupati Parigi Moutong, H. Abdul Sahid, turun langsung ke tanah yang becek. Tangannya memegang bibit. Ia ingin pagar hidup, bukan sekadar seremoni.
Ini adalah cara Parigi Moutong menyambut ulang tahunnya yang ke-24. Juga menyambut Hari Kesiapsiagaan Bencana 2026. Pilihannya jatuh pada pohon. Sederhana, tapi fatal kalau diabaikan.
"Kita bukan cuma tanam bibit. Kita tanam harapan," ujar Abdul Sahid di sela-sela kegiatannya di Kecamatan Torue, Kamis (9/4).
Publik memang butuh bukti nyata. Apalagi perubahan iklim bukan lagi dongeng pengantar tidur. Cuaca makin ekstrem. Kadang panas menyengat, tiba-tiba hujan tumpah ruah. Kekeringan di beberapa titik sudah jadi alarm. Pemerintah daerah sadar: alam tidak bisa dilawan, tapi bisa diajak kompromi.
Langkah ini diapresiasi banyak pihak. Ada BPBD, Yayasan Merah Putih, hingga Balai Pengelolaan DAS Palu Poso yang menyuplai bibit. Kolaborasi yang apik. Memang, urusan lingkungan tidak bisa dikerjakan sendirian seperti pahlawan kesepian.
"Setiap pohon adalah benteng alam. Dia ikat tanah supaya tidak longsor, dia serap air supaya tidak banjir," tambah Sahid dengan nada serius. Kalimatnya pendek-pendek. Khas orang yang tahu lapangan.
Di lokasi, suasana terlihat guyub. Masyarakat ikut bergerak. Memang sudah seharusnya begitu. Kelestarian lingkungan jangan cuma jadi beban dinas terkait. Generasi muda harus melihat ini sebagai warisan. Bukan warisan utang bencana, tapi warisan oksigen.
Ada sedikit harapan besar yang tersirat. Bibit yang ditanam hari ini jangan sampai cuma jadi monumen sesaat. Habis ditanam, ditinggal mati. Butuh komitment bersama untuk merawatnya sampai kokoh.
"Semoga jadi amal kebaikan. Ini untuk anak cucu kita kelak," pungkasnya sebelum beranjak dari bantaran sungai.
Parigi Moutong sedang bersiap. Menuju usia baru dengan kesadaran baru: bahwa menjaga alam adalah cara terbaik menjaga diri sendiri.
Kritik Tajam DPRD, Pejuang Pemekaran Parigi Moutong Tak Boleh Jadi Tamu di Rumah Sendiri
Artikel Terkait
Bukan Sekadar Legit, Durian Banggai Kini Urus Sertifikat Indikasi Geografis ke DJKI
Gila! 5 Pria di Makassar Nekat Minum Oli Demi Stamina, Publik Geger: Lambung Bukan Mesin!
Anggota DPRD Parimo Semprot Puskesmas, Pasien Rujukan BPJS Jangan Dipungut Biaya!
Kritik Tajam DPRD, Pejuang Pemekaran Parigi Moutong Tak Boleh Jadi Tamu di Rumah Sendiri
Gaya Lobi Bupati Majene di Forum Sulbar, Amankan Anggaran Rakyat 2027