• Selasa, 21 Juli 2026

Kritik Tajam DPRD, Pejuang Pemekaran Parigi Moutong Tak Boleh Jadi Tamu di Rumah Sendiri

.
Dwi Rahayu Putri, Sulawesi Today
- Kamis, 9 April 2026 | 14:33 WIB
Anggota DPRD Candra Setiawan usulkan penghargaan khusus bagi 26 tokoh pemekaran di HUT ke-24 Parigi Moutong. Jangan lupakan sejarah perjuangan daerah.
Anggota DPRD Candra Setiawan usulkan penghargaan khusus bagi 26 tokoh pemekaran di HUT ke-24 Parigi Moutong. Jangan lupakan sejarah perjuangan daerah.

Sulawesitoday - Kabupaten ini sudah dewasa. Usianya sudah 24 tahun. Tapi ada yang ironis: para "bidan" yang melahirkannya justru seperti tamu asing di rumah sendiri.

Selasa kemarin, di ruang rapat DPRD yang ber-AC itu, Candra Setiawan melempar "bom" kecil. Anggota dewan ini gusar. Pasalnya, setiap kali HUT Kabupaten Parigi Moutong (Parimo) tiba, seremoni lewat begitu saja. Pidato berbuih-buih, tapi wajah para pejuang pemekaran tak pernah mendapat tempat terhormat.

"Pada tanggal 10 besok, bertepatan dengan hari ulang tahun Kabupaten, kami berharap para tokoh pemekaran yang berjumlah sekitar 26 orang dapat diundang secara khusus," cetus Candra di tengah Rapat Paripurna LKPJ Bupati.

Gaya Candra lugas. Dia tidak ingin sekadar basa-basi. Baginya, 24 tahun adalah waktu yang sangat lama untuk sebuah kata "lupa". Bayangkan, ada 26 orang pejuang. Mereka yang dulu berkeringat, melobi ke sana-kemari agar Parigi Moutong bisa berdiri tegak sebagai daerah otonom, kini malah terabaikan.

Candra melihat ada yang salah dengan cara kita menghargai sejarah.

"Kita di gedung perwakilan ini pun belum pernah secara serius memikirkan penghargaan bagi mereka," tegasnya dengan nada bicara yang sedikit meninggi. Kalimat itu seperti tamparan halus bagi kolega-koleganya di legislatif maupun eksekutif.

Memang aneh. Kita senang merayakan hasil, tapi sering malas menoleh pada proses. Padahal, tanpa 26 tokoh itu, mungkin rapat paripurna di gedung megah itu tak akan pernah ada. Candra ingin momentum 10 April besok menjadi titik balik. Bukan sekadar makan tumpeng, tapi memberikan tempat duduk paling depan bagi mereka yang berjasa.

Mungkin pemerintah daerah perlu belajar lagi cara berterima kasih. Memberi piagam atau sekadar undangan khusus tentu tak akan menguras APBD. Ini soal etika. Soal bagaimana sebuah bangsa —atau daerah— menghargai akar sejarahnya sendiri.

Masyarakat menunggu. Apakah usulan Candra ini hanya akan menguap di sela-sela flapon ruang rapat, atau benar-benar diwujudkan oleh Bupati pada hari jumat nanti?

Jangan sampai, para pejuang itu hanya jadi catatan kaki yang berdebu. Kasihan. Sangat tidak elok jika para orang tua yang telah berjuang itu hanya menonton kemeriahan HUT dari layar handphone di rumah masing-masing, sementara para pejabat yang menikmati hasilnya sibuk berfoto ria.

Legislator Chandra Setiawan Walk Out dari Paripurna, Protes Pejuang Pemekaran Parimo yang Dilupakan

Editor: Dwi Rahayu Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini