Sulawesitoday - Ribuan pasang kaki mulai menghentak aspal di depan Lapangan Toraranga, Rabu pagi ini (9/4). Bunyi "prok-prok-prok" itu bukan sekadar baris-berbaris biasa. Ia adalah penanda: Kabupaten Parigi Moutong sudah genap berusia 24 tahun.
Wakil Bupati (Wabup) berdiri di sana. Di garis start. Wajahnya sumringah melihat barisan seragam SD, SMP, hingga SMA yang rapi jali. Begitu bendera start dikibarkan, derap itu pecah menuju garis finish di Taman Masigi.
Inilah cara Parigi Moutong merayakan ulang tahun. Sederhana, tapi sarat makna. Tidak perlu panggung megah yang menghamburkan uang rakyat, cukup dengan melatih kedisplinan anak muda lewat gerak jalan.
Bagi Wabup, urusan baris-berbaris ini bukan soal siapa yang paling cepat sampai. Bukan pula soal siapa yang ayunan tangannya paling gagah. Ada yang lebih subtansial dari itu: karakter.
"Lomba ini bukan sekadar ajang kompetisi. Ini sarana menumbuhkan semangat kebersamaan dan kedisiplinan generasi muda kita," ujar Wabup di sela-sela pelepasan peserta.
Beliau tampak sangat menikmati antusiasme itu. Sesekali ia memperbaiki posisi berdiri peserta yang mulai tidak sejajar. Baginya, anak-anak ini adalah wajah Parigi Moutong dua dekade ke depan. Kalau hari ini mereka bisa kompak dalam barisan, maka kelak mereka akan kompak membangun daerah.
Memang, usia 24 tahun bagi sebuah kabupaten adalah usia emas. Ibarat manusia, ia sedang kuat-kuatnya. Sedang ranum-ranumnya. Maka, momen HUT ini sekaligus dipakai untuk refleksi pelayanan publik.
Wabup juga sempat berpesan agar para siswa tidak hanya mengejar juara. "Kemenangan bukan tujuan utama. Yang penting itu pengalaman dan semangat persatuanya," tegasnya singkat namun padat.
Sepanjang rute menuju Taman Masigi, masyarakat tumpah ruah. Ada yang bersorak, ada yang sekadar memotret anaknya lewat ponsel pintar. Kerumunan itu memberikan energi tambahan bagi para peserta yang mulai bermandikan keringat.
Tentu, mengelolah ribuan masa tidaklah mudah. Kerja keras panitia patut diacungi jempol. Acara berjalan tertip dan penuh kegembiraan. Tidak ada wajah cemberut, yang ada hanya tawa dan derap langkah yang terus maju ke depan.
Sama seperti harapan masyarakat Parigi Moutong: terus melangkah, jangan berhenti di tempat.
Benteng Hijau Tanahlanto, Cara Wabup Abdul Sahid Mitigasi Bencana di Parigi Moutong
Artikel Terkait
Gila! 5 Pria di Makassar Nekat Minum Oli Demi Stamina, Publik Geger: Lambung Bukan Mesin!
Anggota DPRD Parimo Semprot Puskesmas, Pasien Rujukan BPJS Jangan Dipungut Biaya!
Kritik Tajam DPRD, Pejuang Pemekaran Parigi Moutong Tak Boleh Jadi Tamu di Rumah Sendiri
Gaya Lobi Bupati Majene di Forum Sulbar, Amankan Anggaran Rakyat 2027
Benteng Hijau Tanahlanto, Cara Wabup Abdul Sahid Mitigasi Bencana di Parigi Moutong