Sulawesitoday – Wabah Mpox, atau yang lebih dikenal sebagai cacar monyet, kini menjadi ancaman serius bagi kesehatan global, terutama di benua Afrika.
Penyakit ini, yang pertama kali terdeteksi di Britania Raya pada Mei 2022, telah menyebar ke lebih dari 90 negara dan terus menimbulkan kekhawatiran di berbagai penjuru dunia.
Kasus pertama mpox di Afrika dilaporkan di Kenya pada 31 Juli 2024. Nairobi mengonfirmasi adanya infeksi ini, menandai penyebaran lebih luas virus tersebut di benua Afrika.
Pada hari yang sama, Bangui, ibu kota Republik Afrika Tengah (CAR), juga melaporkan kasus pertama mpox.
"Penyebaran virus ini di Afrika telah menjadi perhatian serius sejak wabah terjadi pada 2022," jelas seorang pejabat kesehatan setempat.
Mpox merupakan penyakit zoonosis yang umumnya ditularkan dari hewan ke manusia, terutama melalui kontak langsung dengan hewan terinfeksi seperti hewan pengerat dan primata.
Penularan antar-manusia juga bisa terjadi melalui kontak fisik dengan lesi kulit atau cairan yang terinfeksi.
Gejala mpox bervariasi, dari ringan hingga berat, dan dapat mencakup ruam kulit, demam, serta nyeri otot.
Mereka yang memiliki risiko lebih tinggi terhadap komplikasi penyakit ini meliputi ibu hamil, anak-anak, dan individu dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah.
Di Indonesia, kasus mpox pertama ditemukan pada Agustus 2022 di Jakarta, dan hingga akhir 2023, tercatat 59 kasus.
Wabah mpox telah menjadi ancaman bagi sistem kesehatan nasional dan memerlukan perhatian serius dalam pengelolaan dan pencegahan.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tengah mempertimbangkan status wabah mpox sebagai darurat internasional.
Dan beberapa negara di Afrika, termasuk Kenya dan CAR, kini berada dalam sorotan utama terkait penyebaran virus ini.