Sulawesitoday - Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas III Palu menjadi saksi bisu sebuah pertemuan berkesan yang diwarnai dengan senyum dan harapan. Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kementerian Hukum dan HAM Republik Indonesia mengunjungi lapas tersebut, membawa serta dukungan moral dan semangat baru bagi para warga binaan. Kunjungan ini dipimpin langsung oleh Ny. Yayuk Iwan Kurniawan, Ketua DWP Kemenkumham RI, yang disambut hangat oleh Kepala Kantor Wilayah Kemenkumham Sulteng, Hermansyah Siregar, dan jajaran pejabat lainnya.
Saat memasuki area lapas, Ny. Yayuk dan rombongan disuguhi berbagai karya kerajinan tangan hasil buatan warga binaan. Ada tas anyam, aksesoris dari bahan daur ulang, hingga produk tata boga yang semua diciptakan dengan telaten dan penuh semangat.
“Saya sangat terkesan dengan hasil karya ibu-ibu di sini,” ujar Ny. Yayuk dengan nada bangga.
“Ini membuktikan bahwa dengan semangat dan kemauan yang kuat, kita bisa menghasilkan sesuatu yang bermanfaat.”
Kata-katanya langsung disambut tepuk tangan meriah dari warga binaan dan para hadirin. Momen ini menjadi pengakuan nyata bahwa kreativitas tidak terbatas pada tempat dan kondisi. Nyatanya, di balik jeruji besi, ada potensi besar yang sedang berkembang dan menanti untuk diapresiasi.
Baca Juga: Bahaya Perundungan di Kampus: Kemenkumham Sulteng Serukan Kesadaran Hukum
Tidak hanya sekadar kunjungan, DWP Kemenkumham RI juga memberikan dukungan moril dan mengajak para warga binaan untuk terus mengembangkan diri.
“Jangan pernah menyerah,” lanjut Ny. Yayuk, “karena apa yang kalian hasilkan di sini bisa menjadi bekal untuk masa depan yang lebih baik.”
Kata-kata itu terdengar sederhana, tapi memiliki makna yang dalam, terutama bagi mereka yang sedang mencari harapan baru.
Hermansyah Siregar, Kepala Kanwil Kemenkumham Sulteng, mengamini pernyataan tersebut. Ia mengungkapkan bahwa kunjungan ini memberi energi positif bagi seluruh warga binaan.
“Kehadiran pengurus DWP Kemenkumham RI sangat berarti bagi mereka. Ini bukan hanya soal materi, tapi juga bagaimana kita memperlakukan mereka sebagai bagian dari masyarakat yang punya kesempatan untuk berubah,” jelas Hermansyah.
Ia pun tak lupa memaparkan berbagai program pembinaan yang telah dilakukan di Lapas Perempuan Kelas III Palu. Mulai dari pelatihan keterampilan menjahit, membuat aksesoris, hingga pelatihan tata boga yang diarahkan untuk membantu warga binaan memiliki kemampuan praktis.
“Kami tidak hanya fokus pada pembinaan dalam lapas, tetapi juga bagaimana mereka bisa mandiri ketika bebas nanti. Makanya kita pasarkan hasil karya mereka di marketplace agar jangkauannya lebih luas,” tambah Hermansyah dengan antusias.
Dukungan dari berbagai pihak sangat penting untuk mewujudkan hal tersebut. Hermansyah menyebutkan bahwa pihaknya telah bekerja sama dengan pemerintah daerah setempat dan berbagai organisasi kemasyarakatan lainnya.