Sulawesitoday - Di Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan, konflik antarremaja kini semakin mengkhawatirkan. Bukan lagi sekadar perkelahian biasa, mereka kini menggunakan senjata berbahaya seperti busur panah. Insiden terbaru terjadi di Mappilawing, Kecamatan Eremerasa, pada Kamis malam (31/10), sekitar pukul 21.30 WITA, saat dua kelompok remaja dari Kecamatan Pa'jukukang dan Kecamatan Bisappu terlibat dalam aksi saling serang. Tindakan ini mengakibatkan dua orang terluka, termasuk salah seorang warga yang menjadi korban tanpa sengaja.
Kasat Reskrim Polres Bantaeng AKP Marzuki menjelaskan, “Kenakalan remaja yang saling menyerang menggunakan busur atau panah tanpa memikirkan risiko dan sasaran terhadap masyarakat sekitar.” Ini menunjukkan bahwa mereka tidak hanya membahayakan diri sendiri tetapi juga mengancam keselamatan masyarakat yang berada di sekitar tempat kejadian.
Baca Juga: Strategi Shin Tae-yong Turunkan Skuad U-23 di Piala AFF 2024 untuk Persiapan SEA Games
Kejadian ini bermula saat dua kelompok remaja tersebut saling mengejar menggunakan sepeda motor. Salah satu remaja, RD (19) dari kelompok Pa'jukukang, menembakkan anak panah yang akhirnya melukai AS (21) dari kelompok Bisappu. Kejadian ini tak berhenti di sana. Setelah RD melepaskan busur, kelompok Bisappu mencoba melarikan diri, tetapi kemudian kembali untuk membalas serangan tersebut. Sayangnya, warga yang mencoba menolong justru terkena panah dari kelompok Bisappu, memperlihatkan betapa situasi ini telah melibatkan masyarakat secara langsung.
Kepolisian setempat bertindak cepat dengan mengamankan barang bukti berupa sepeda motor, ketapel busur, dan anak panah yang digunakan kedua belah pihak. Hingga kini, sebanyak delapan remaja telah diamankan, dengan empat di antaranya telah ditetapkan sebagai tersangka. Menurut Marzuki, dua tersangka dari kelompok Pa'jukukang, yakni RD sebagai pelaku utama dan BK sebagai pembantu, serta dua tersangka dari kelompok Bisappu, yakni MS dan AL.
Menyikapi kejadian ini, kekerasan di kalangan remaja di Bantaeng jelas menjadi persoalan yang memerlukan perhatian lebih. Mengapa penggunaan senjata berbahaya seperti busur panah menjadi pilihan bagi para remaja? Tak bisa dipungkiri, ada beberapa faktor yang bisa memicu fenomena ini, mulai dari ketidakhadiran kontrol sosial yang kuat, kurangnya bimbingan dari keluarga, hingga pengaruh lingkungan dan pergaulan.
Langkah preventif sangat diperlukan, terutama dengan melibatkan masyarakat, sekolah, dan orang tua untuk mendidik anak-anak mengenai konsekuensi tindakan kekerasan. Diperlukan pula upaya dari aparat untuk memperketat pengawasan, terutama di wilayah-wilayah yang kerap terjadi aksi tawuran.
Baca Juga: Likuifaksi di Mamuju Tengah: 200 Meter Akses Warga Lumpuh Total, 1 Ekskavator Tertimbun Tanah Amblas
Jika tindakan seperti ini terus dibiarkan, bukan tidak mungkin kasus kekerasan remaja akan semakin parah, dan masyarakat menjadi semakin resah. Diharapkan dengan adanya penanganan hukum yang tegas, remaja lain dapat belajar dari insiden ini, sehingga kasus serupa tak lagi terulang di masa mendatang.