Sulawesitoday - Dibanjiri susu impor, ribuan peternak sapi perah di Boyolali kini menghadapi krisis besar. Aksi protes tak terelakkan, dengan peloper dan peternak lokal menggelar aksi bagi-bagi susu gratis sebagai bentuk solidaritas. Jumat lalu, sekitar 1.000 liter susu dibagikan di simpang lima Boyolali, memicu perhatian publik terhadap permasalahan distribusi yang kian pelik.
“Kami berharap impornya ditutup. Kami siap menyuplai kebutuhan susu nasional meskipun pasokannya masih kurang,” ujar Sugianto, seorang peloper susu yang telah berjuang di lapangan selama bertahun-tahun.
Baca Juga: Infus di Tangan Bukan Halangan Bapak Ini Tetap Asyik Mancing, Netizen: Rawat Jalan Ala Sultan?
Tapi ada yang lebih dari sekadar aksi simbolis. Di balik pernyataan optimistis untuk memasok susu nasional, nyatanya para peloper justru dipaksa membuang puluhan ton susu lantaran penolakan dari Industri Pengolahan Susu (IPS). Dengan alasan “perawatan mesin”, IPS menolak pasokan susu yang dibawa peloper—sebuah alasan yang menurut mereka hanya “kedok” di tengah meningkatnya impor susu.
“Padahal tidak mungkin itu. Saya sudah buang 33 ton susu,” lanjut Sugianto, mengungkapkan betapa ironisnya situasi ini.
Baca Juga: Aksi Bullying Berujung Viral, Oknum Guru Diduga Dalang Perundungan di Parigi
Situasi semakin rumit karena adanya kebijakan baru dari Kementerian Perdagangan yang memperlebar pintu impor susu. Dampaknya langsung terasa di tingkat peternak dan peloper susu lokal, yang merasa produk mereka kian tersisih. Sugianto tak sendirian. UD Pramono, sebuah unit bisnis yang menjadi andalan bagi 1.300 peternak Boyolali, bahkan harus berhadapan dengan pemblokiran rekening dari Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Boyolali.
Pemblokiran ini memperparah krisis karena memutus rantai distribusi dan pembayaran kepada peternak, membuat mereka semakin terpuruk.
Tak sekadar berbagi susu gratis, beberapa warga bahkan melakukan aksi “mandi susu” sebagai bentuk protes. Aksi ini menjadi simbol perlawanan atas kebijakan yang mereka anggap tidak berpihak kepada peternak lokal. Dengan “mandi susu”, warga menyampaikan pesan kuat kepada pemerintah: prioritaskan produk lokal dan selesaikan masalah distribusi yang kian kacau.
Apa yang terjadi di Boyolali ini bukan hanya soal persaingan antara susu impor dan susu lokal. Ini adalah pertaruhan hidup bagi ribuan keluarga yang menggantungkan mata pencaharian mereka dari sapi perah.
Baca Juga: Penampakan 4 Hewan Aneh Terekam Kamera, Mulai dari Gurita Kaca hingga Ikan Barreleye!
Jika krisis ini tak segera diatasi, bukan hanya peternak yang kehilangan pendapatan, tetapi juga masyarakat yang kehilangan akses terhadap produk susu segar lokal. Dari sisi pemerintah, tuntutan utama kini adalah menghentikan sementara impor susu dan memastikan distribusi susu lokal kembali normal.
Dari aksi protes hingga keresahan peloper dan peternak, krisis ini menyimpan cerita perjuangan orang-orang yang menggantungkan hidupnya pada produksi lokal. Aksi-aksi ini menuntut agar para pembuat kebijakan memperhatikan nasib mereka dan tidak sekadar fokus pada kebijakan impor yang, alih-alih membantu, malah menggerus perekonomian lokal.