Sulawesitoday - Di tengah dinamika kota Palopo, tiga ruas jalan penghubung antar kecamatan kini menjadi sorotan karena kondisi jalan berlubang yang semakin rawan lakalantas.
Jalan Lingkar Timur, Jalan Andi Tendriajeng, dan Jalan KH Moh Hasyim mengalami kerusakan yang parah, mengundang kecemasan di kalangan warga yang harus melintas setiap hari.
Di salah satu ruas Jalan Andi Tendriajeng, warga setempat telah menemukan solusi unik. Hasrul, seorang warga yang tinggal di area tersebut, mengungkapkan bahwa mereka memasang ban sebagai penanda di titik-titik rawan.
"Ban yang dipasang di sekitar lubang itu ibarat peringatan, supaya pengendara lebih waspada. Memang, sebelumnya sudah pernah terjadi kecelakaan kecil karena ban penanda lama yang terlepas," ujarnya dengan nada prihatin namun penuh keakraban.
Sementara itu, di Jalan Lingkar Timur, fenomena kecelakaan cukup sering terjadi. Pengendara, terutama pelajar dan warga lansia, sering mengalami jatuh akibat kondisi jalan yang tidak terawat.
Seorang warga perempuan, Putri, menambahkan bahwa area sekitar IAIN Palopo kerap kali diwarnai dengan adegan kecelakaan ringan yang bisa berujung fatal jika tidak segera ditangani.
"Kita sudah coba cara lain, seperti menanam pohon pisang sebagai bentuk protes. Sayangnya, jalan tetap saja belum menunjukkan perbaikan yang signifikan," ungkapnya.
Pejabat dari Bina Marga PUPR Palopo, Yulianus Matius, mengonfirmasi bahwa kerusakan ini diakibatkan oleh curah hujan tinggi yang membuat jalan tergenang air dan akhirnya merusak aspal serta base jalan.
"Kami memang menganggarkan dana untuk pemeliharaan, namun keterbatasan anggaran membuat perbaikan yang dilakukan masih bersifat tambal sulam. Untuk jalan yang sangat rusak, kami sedang melakukan survei dan perencanaan untuk penganggaran selanjutnya," jelas Yulianus.
Baca Juga: Balita Keracunan di Mamuju: Minuman Seribuan yang Jadi Masalah
Fenomena jalan berlubang di Palopo bukan hanya soal infrastruktur yang kurang terjaga, namun juga cerminan dari tantangan pengelolaan kota dalam menghadapi cuaca ekstrem dan alokasi anggaran yang terbatas.
Sambil menatap masa depan, warga berharap agar perbaikan jalan dapat segera diutamakan demi mengurangi risiko lakalantas dan menjaga keselamatan setiap pengguna jalan.
Di tengah situasi yang dinamis ini, pesan yang tersirat adalah agar pengendara tetap waspada dan masyarakat bersama-sama mencari solusi kreatif sambil menunggu langkah konkret dari pemerintah.
Semoga kisah di Palopo bisa menjadi contoh bagi kota-kota lain yang menghadapi tantangan serupa.
Artikel Terkait
-
Geger, Pegawai Puskesmas Ini Ditindak Tegas Setelah Adu Mulut dengan Pasien BPJS
-
Heboh Oknum Anggota DPRD Selayar Diduga Lakukan Pemalsuan Tanda Tangan
-
Kakanwil Rakhmat Renaldy Ungkap Harapan Besar RUU BUMN, UMKM dan Infrastruktur Sulawesi Tengah Melonjak
-
Longsor di Lunguto Buol: Jalan Trans Tertutup, 3 Rumah Rusak Berat dan 9 Rumah Terancam
-
Balita Keracunan di Mamuju: Minuman Seribuan yang Jadi Masalah