Sulawesitoday - Harga minyak Nilam di Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat, mengalami penurunan yang sangat signifikan sejak Selasa (18/2/2025).
Dahulu, harga komoditas yang sempat mencapai puncaknya hingga Rp2 juta per kilogram, kemudian stabil di kisaran Rp1,8 juta per kilogram.
Namun kini, harga nilam jatuh drastis menjadi Rp900 ribu per kilogram, membuat para petani kehilangan harapan. Perubahan harga yang mendadak ini mengguncang pasar lokal.
Sebagian besar petani di wilayah Mamasa telah mengalihkan lahan mereka ke tanaman nilam, karena sebelumnya harga yang menjanjikan memberi harapan perolehan pendapatan yang lebih tinggi dibandingkan tanaman lain seperti jagung.
Namun, pergeseran tajam harga membuat para petani kini harus menghadapi realitas pahit.
“Saat ini kami benar-benar terancam, karena semua lahan telah dialihkan ke nilam. Dulunya masih ada jagung, namun sekarang semua fokus pada nilam. Jika harga terus turun seperti ini, keberlangsungan usaha kami akan terganggu,” ungkap Aslan, salah satu petani dari Dusun Kata-kata, Desa Botteng, Kecamatan Mehalaan. Pernyataan tersebut disampaikan pada Rabu (19/2/2025) saat diwawancarai di lokasi.
Penurunan harga nilam yang begitu drastis bukan hanya berdampak pada kesejahteraan para petani, tetapi juga menimbulkan kecemasan masyarakat yang menggantungkan hidupnya pada komoditas tersebut.
Kondisi ini semakin memprihatinkan menjelang bulan Ramadan 2025, di mana kebutuhan ekonomi dan pasokan bahan pokok menjadi sangat krusial. Petani khawatir, jika tren ini berlanjut, dampak negatifnya akan dirasakan secara luas.
Para pengamat ekonomi lokal menilai, perubahan harga nilam yang tiba-tiba ini perlu mendapat perhatian serius dari pihak terkait.
Mereka berharap adanya intervensi dan dukungan pemerintah untuk menstabilkan harga, sehingga para petani tidak semakin terdesak.
Baca Juga: Jembatan Penghubung Desa Siwi dan Minanga Timur Mamasa Putus Akibat Banjir
“Semoga kondisi segera normal kembali, karena saat ini harapan semua petani ada pada pemulihan harga yang stabil,” pungkas Aslan.
Situasi ini menjadi peringatan bahwa pasar komoditas pertanian sangat rentan terhadap fluktuasi harga yang dapat mengganggu stabilitas ekonomi masyarakat.
Ke depannya, diharapkan adanya strategi yang lebih matang untuk mengantisipasi gejolak pasar dan melindungi para petani dari dampak negatif perubahan harga secara mendadak.