Sulawesitoday - Apakah banjir lumpur yang parah di Desa Air Panas, Parigi Moutong, hanya soal intensitas hujan semata? Atau, ada cerita lain yang lebih dalam, seperti bisikan terkait "emas" yang tak berizin?
Desa Air Panas, Kecamatan Parigi Barat, Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, pada Senin sore (7/7) porak-poranda dihantam banjir besar yang membawa serta lumpur pekat. Kejadian ini tak biasa. Air sungai meluap deras, menjebol jembatan, lalu tumpah ruah menggenangi jalan utama serta rumah-rumah warga.
Sebuah pemandangan yang membuat Selvi Epi, salah seorang warga, tak bisa menahan diri untuk merekam dan membagikannya di media sosial.
Dalam rekaman berdurasi 54 detik itu, Selvi dengan nada cemas, terdengar berkata, "Banjir besar baru kali ini dalam rekamannya." Kekhawatiran Selvi bukan tanpa alasan. Anaknya berada di seberang sungai, terpisah oleh arus deras yang sewaktu-waktu bisa menjadi ancaman.
"Anak saya di bawah sana, kuala banjir," ujarnya, menggambarkan betapa tipisnya batas antara keselamatan dan marabahaya.
Namun, di tengah kepanikan itu, Selvi melontarkan sebuah kalimat yang menyiratkan dilemma mendalam: "Inilah efeknya tambang. Tapi kalau tidak ada tambang, tidak ada duit." Sebuah tawa kecil mengiringi kalimat terakhirnya, seolah menertawakan getirnya pilihan hidup di antara ancaman bencana dan kebutuhan ekonomi.
Celotehan ini bukan isapan jempol belaka. Di satu sisi, aktivitas tambang yang diduga ilegal kian memperparah kerusakan lingkungan, sekaligus memicu musibah banjir. Tapi, di sisi lain, denyut nadi kehidupan warga kerap bergantung pada rizki yang konon didapat dari 'harta karun' perut bumi itu.
Banjir Lumpur yang Kian Akrab
Fenomena banjir yang disertai lumpur pekat di Desa Air Panas rupanya bukan barang baru. Data statistik dua tahun terakhir menunjukkan tren yang mengkhawatirkan.
Pada 25 Mei 2024, Desa Air Panas juga pernah direndam banjir berlumpur akibat hujan deras dan luapan sungai. Sawah dan lahan pertanian warga menjadi korban, terendam lumpur yang mengakibatkan kerugian ekonomi tak sedikit.
Jika dulu dampaknya lebih banyak pada lahan pertanian, banjir 7 Juli 2025 ini justru menyasar langsung ke permukiman, merendam rumah dan merusak jembatan. Endapan lumpur tebal dan batang kayu berserakan, meninggalkan jejak kekacauan.
Faktor penyebabnya, lagi-lagi, mengerucut pada kombinasi curah hujan tinggi dan kaitan tambang emas ilegal di kawasan sekitar desa. Sebuah kombinasi maut yang membuat tanah kehilangan daya serapnya, menjadikannya rentan terhadap luapan air.
Respons Pemerintah dan Data dari Balik Meja Sibimo
Pemerintah Daerah Parigi Moutong sejatinya sudah mengambil langkah. Beberapa waktu lalu, aktivitas Pertambangan Tanpa Izin (PETI) di Desa Kayuboko, yang berbatasan langsung dengan Air Panas, telah ditutup sementara. Sebuah upaya untuk menata ulang agar aktivitas tambang sesuai aturan dan meminimalisir kerusakan lingkungan lebih lanjut. Namun, banjir terbaru ini seolah menjadi pengingat bahwa pekerjaan rumah masih menumpuk.
Baca Juga: Jejak PSK Berkeliaran di IKN, Bisnis Kencan Online dan Tarif Mencengangkan Terbongkar
Laporan resmi dari Pusdalops BPBD Kabupaten Parigi Moutong, yang terekam dalam data Sibimo pada Senin, 7 Juli 2025, pukul 20.15 WITA, memberikan gambaran lebih detail. Banjir yang terjadi pukul 15.20 WITA itu berdampak pada 19 kepala keluarga atau 77 jiwa.
Artikel Terkait
Tiga Pria Diduga Aniaya Pacar Driver Ojol yang Viral di Medsos Kini Ditahan Polisi
Kronologi Lengkap Petani Ditelan Ular Piton 5 Meter di Buton Selatan, Akhir Tragis La Noti
Peresmian Jembatan Palu IV Terganjal, Kapan Waktunya Tiba?
Jejak PSK Berkeliaran di IKN, Bisnis Kencan Online dan Tarif Mencengangkan Terbongkar
Beras Mahal di Majene Rp420 Ribu per 25 Kg, Pemerintah Diminta Bertindak Cepat