Sulawesitoday - Wabup Parigi Moutong Abdul Sahid mematahkan isu miring yang menyeret namanya dalam pusaran bisnis tambang ilegal. Ia buka suara di hadapan forum legislatif. Menanggapi desakan dua anggota dewan, Sahid berkelit. Ia mengklaim, isu tambang itu tak lebih dari ulah oknum yang menjual namanya.
Klarifikasi dramatis itu pecah dalam sidang paripurna DPRD. Mohammad Irfain dan Arifin Dg Palalo, dua wakil rakyat, meminta Wabup Sahid menyingkap tabir. Mereka ingin kejelasan atas tuduhan mengelola tambang dan memungut fee. Akhirnya, Sahid berdiri. Ia menampik semua. Informasi di media tidak benar.
"Semua itu tidak benar," ujarnya dalam sidang. "Ada yang jual-jual nama saya." Sahid melanjutkan alibinya. Katanya ada yang mengatasnamakan dia terkait permintaan fee tambang. Isu pun menyebut ia memiliki tambang hingga tiga blok. Lokasinya di Desa Kayuboko. Total lahan kurang lebih 30 hektare. Padahal, media mana pun tidak pernah menulis itu.
Narasi alibi Wabup berlanjut. Oknum yang menjual namanya pun terungkap. Berdasarkan informasi dari sumber terpercaya, oknum itu ternyata masih keponakannya sendiri. Namun, nama sang keponakan tetap dirahasiakan. Ini menjaga privasi. Oknum itu diduga memakai nama Sahid untuk meraup keuntungan dari bisnis tambang ilegal.
Bantahan lain menyusul. Ia juga membantah kepemilikan alat berat. Alat-alat itu katanya beroperasi di dua titik tambang ilegal. Pertama, di Malanggo. Kedua, di Moutong. “Itu tidak benar,” tegasnya. Ia tidak mendukung pertambangan ilegal. Sikapnya jelas. Ia tetap mendukung keberadaan tambang. Asal legal. Wabup mendorong eksekutif dan legislative membuat regulasi ketat. Langkah ini, menurutnya, bisa melegalkan tambang. Mengatur keberadaannya. Bukan malah mematik konflik. Sebuah solusi yang tidak biasa.
Situasi ini seperti bola salju. Makin bergulir makin membesar. Kasus ini bukan sekadar bantahan. Ini potret keruwetan. Antara isu yang beredar, politik lokal, dan praktik pertambangan ilegal. Di tengah pusaran ini, satu pertanyaan menggantung. Apakah klarifikasi Wabup Parigi Moutong ini murni pembelaan diri? Atau justru ada rahasia lain yang belum terbongkar?
Artikel Terkait
Job Fair Sulteng 2025, Harapan Gubernur Anwar Hafid Terjawab: 96 Persen Pencari Kerja Berasal dari Anak Daerah
Sistem Pajak Indonesia Pincang? Riset Celios Ungkap Beban Terberat Ditanggung Orang Miskin
Gubernur Luthfi Ingatkan Bupati Pati, Terima Aspirasi Warga Saat Ribuan Demo Soal Protes Kenaikan PBB
Bupati Pati Sudewo Minta Maaf di Tengah Tuntutan Mundur: Saya Akan Berbuat Lebih Baik
Drama Korupsi DJKA, KPK Sebut Bupati Pati Sudewo Diduga Terima Dana