-
Mengapa Peringatan Megawati Diabaikan?
Pertanyaan ini menggantung. Megawati bukan politisi amatir. Dia mantan presiden. Dia paham seluk-beluk proyek besar. Tapi peringatannya seperti teriakan di padang pasir—ada yang dengar, tapi tak ada yang peduli.
Mungkin karena euforia pembangunan terlalu kuat. Mungkin karena gengsi ingin punya kereta cepat seperti Jepang atau China. Mungkin juga ada kepentingan lain yang lebih besar dari sekadar peringatan satu tokoh politik.
Yang jelas, sepuluh tahun kemudian, peringatan itu kembali bergema. Kini bukan dalam bentuk tanya, tapi dalam bentuk penyelidikan lembaga antikorupsi paling ditakuti di negeri ini.
Esti menekankan pentingnya belajar dari kesalahan. "Catatan-catatan" yang dimaksud Megawati 2015 harusnya jadi pedoman. Harusnya jadi rem. Harusnya jadi pengingat bahwa proyek besar bukan hanya soal prestise, tapi juga soal manfaat riil bagi rakyat dan pertanggungjawaban keuangan negara.
-
Apa yang Akan Terjadi Selanjutnya?
KPK tidak memberikan timeline pasti. Penyelidikan berlangsung tertutup. Bisa berbulan-bulan. Bisa bertahun-tahun. Tapi satu hal pasti: bila ditemukan bukti kuat, penyidikan akan naik tahap. Tersangka akan ditetapkan. Kasus akan bergulir ke pengadilan.
PDIP sudah menyatakan sikap jelas. Dukung penegakan hukum. Tidak akan melindungi siapa pun yang terbukti korupsi. Ribka dan Esti kompak menekankan hal ini. Konsisten. Tegas.
Masyarakat tentu berharap KPK tuntas mengusut. Proyek sebesar ini, dengan anggaran triliunan, tidak boleh jadi ladang korupsi. Rakyat butuh kejelasan. Butuh keadilan. Butuh kepastian bahwa uang pajak mereka tidak dijarah.
Whoosh tetap beroperasi. Penumpang tetap berdatangan. Tapi bayangan penyelidikan KPK menggantung di atas rel-rel cepat itu. Seperti awan mendung yang siap menurunkan hujan.
Baca Juga: KPK Resmi Selidiki Dugaan Korupsi Kereta Whoosh, Mahfud MD Minta Dipanggil
Artikel Terkait
KPK Resmi Selidiki Dugaan Korupsi Kereta Whoosh, Mahfud MD Minta Dipanggil
Menkeu Purbaya Mengaku Tak Tahu Soal Kenaikan Tukin ESDM yang Diklaim Bahlil Sudah Direstui Prabowo
KPK Dalami Peran Saksi Klaim Bisa Urus Penyelesaian Perkara
Peringatan Keras! Kamboja Zona Merah Kerja WNI, 110 Orang Terjebak Scam
Anak SD hingga Tunawisma Jadi Korban Judol, Ini Darurat Nasional!