Sulawesitoday - Skandal impor pakaian bekas menguak lubang menganga dalam sistem pengawasan perdagangan Indonesia. Bukan sekadar soal thrifting ilegal. Lebih dari itu. Ada ribuan jalur tikus tersebar. Ada dugaan suap mengalir di pelabuhan besar. Sementara industri tekstil dalam negeri merana, barang-barang ilegal terus membanjiri pasar dengan leluasa.
Direktur Eksekutif Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API), Danang Girindrawardana, membongkar fakta mengejutkan. Setiap kontainer butuh "setoran" Rp20 juta. Angka itu bukan main-main. Jika benar 300 kontainer masuk setiap hari, kerugian negara mencapai miliaran rupiah per bulan. Belum lagi dampak pada ribuan pekerja tekstil yang kehilangan mata pencaharian.
"Satu kontainer itu katanya harus masuk dengan uang suap sebesar Rp20 juta. Kalau dibiarkan, dan ada 300 kontainer per hari, maka kerugian negara sangat besar," ungkap Danang dalam siniar YouTube Hotroom, Kamis, 30 Oktober 2025.
Pernyataan itu mencuat di tengah janji tegas Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, untuk memberantas mafia impor. Namun pertanyaannya sederhana. Bagaimana mungkin ribuan kontainer lolos? Di mana pengawasan Bea Cukai? Apakah komitmen pemerintah cukup kuat menghadapi praktik terstruktur seperti ini?
-
Berapa Banyak Jalur Tikus yang Mengancam?
Angka 1.800 jalur tikus bukan isapan jempol. Pelabuhan-pelabuhan kecil tersebar di seluruh nusantara. Sebagian bahkan tak terpetakan dengan jelas. Geografis Indonesia memang kompleks. Ribuan pulau, ribuan titik masuk. Tapi bukan berarti mustahil diawasi.
Danang menegaskan, barang ilegal tak hanya lewat jalur tikus. Pelabuhan resmi pun jadi sasaran. Lebih ironis lagi, kontainer-kontainer itu berisi campuran barang. Pakaian bekas bercampur elektronik. Alat rumah tangga bersanding kosmetik. Semuanya masuk dalam satu "paket borongan".
"Kontainer borongan itu isinya macam-macam, ada baju baru, ada baju bekas, ada barang elektronik, alat rumah tangga, kosmetik," jelas Danang.
Praktik ini bukan baru kemarin. Sudah berlangsung bertahun-tahun. Sistemnya terorganisir. Melibatkan banyak pihak. Dari importir nakal hingga oknum di lapangan. Pertanyaan besarnya: sampai kapan negara membiarkan kebocoran ini?
-
Apa yang Disiapkan Pemerintah untuk Memberantas Mafia Ini?
Purbaya tidak main-main. Menkeu sudah mengantongi daftar nama. Para importir yang kerap mengedarkan barang ilegal sudah teridentifikasi. Peringatan sudah dilayangkan. Hentikan atau hadapi tindakan tegas.
"Saya sudah punya siapa yang biasa impor. Saya harapkan mereka hentikan sebelum kami tindak," ujar Purbaya kepada awak media di Jakarta, Senin, 27 Oktober 2025.
Langkah konkret tengah disiapkan. Sanksi diperberat. Barang akan dimusnahkan. Pelaku akan didenda dan dipenjara. Yang lebih mengerikan, mereka akan di-blacklist seumur hidup. Tak boleh impor lagi. Selamanya.
"Barangnya akan dimusnahkan, pelakunya didenda, dipenjara, dan di-blacklist. Yang terlibat akan dilarang impor seumur hidup," tegas Purbaya.
Purbaya mengakui ada kelemahan hukum. Selama ini sanksi tak menimbulkan efek jera. Pelaku hanya kehilangan barang. Lalu kembali beroperasi. Kini, celah itu akan ditutup rapat. Aturan baru sedang disusun. Lebih ketat, lebih tegas.
-
Mengapa Pedagang Kecil Tidak Perlu Khawatir?
Banyak yang cemas. Takut razia menyasar pasar tradisional. Pedagang kecil merasa terancam. Tapi Purbaya memberi jaminan tegas. Penindakan hanya di pelabuhan. Bukan di pasar.
Artikel Terkait
5 Tari Tradisional Siswa SMPN 1 Palu Kantongi Hak Kekayaan Intelektual
Sandra Dewi Pasrah, Deposito Rp 33 Miliar dan 88 Tas Mewah Resmi Lenyap dari Tangan
Angka PHK September 2025 Melonjak Lagi, 45 Ribu Pekerja Kehilangan Pekerjaan - Jawa Barat Paling Terdampak
Prabowo Tegas Tidak Ada Ruang untuk Mafia di Tubuh Pemerintahan
Royalti Lagu Pesta Nikahan Jadi Perdebatan, WAMI Minta 2 Persen, Anggota DPR Tolak Mentah-Mentah