Sulawesitoday - Para penipu investasi kini menyelinap di balik grup Telegram, menjajakan mimpi untung kilat lewat aset kripto dan saham. Modusnya seragam: janji manis yang berakhir dengan saldo yang ludes.
REZA—bukan nama sebenarnya—hanya bisa menatap nanar layar ponselnya. Di sebuah grup Telegram yang ia ikuti sebulan lalu, angka-angka hijau yang melambangkan profil investasinya mendadak beku. Saat ia hendak menarik dana yang diklaim sudah berlipat ganda, admin grup yang sebelumnya ramah bin sigap itu tiba-tiba menghilang. Pesannya hanya centang satu. Reza baru sadar, ia baru saja digulung ombak investasi bodong.
Kisah Reza adalah potret buram yang kian marak di jagat digital. Belakangan, aplikasi pesan instan Telegram berubah menjadi ladang ranjau bagi para pemburu cuan instan. Para operator penipuan ini bekerja dengan rapi: membangun narasi kesuksesan, memamerkan testimoni palsu, dan menyaru sebagai manajer investasi profesional.
Pluang, salah satu platform investasi resmi, baru-baru ini harus meniup peluit peringatan. Mereka menemukan puluhan akun bodong yang mencatut nama dan logo mereka. "Para pelaku menggunakan modus 'kesempatan cuan cepat' dan mengajak korban masuk ke grup eksklusif," demikian pernyataan resmi perusahaan tersebut.
Modus operandi mereka sejatinya lagu lama dengan aransemen baru. Korban biasanya diumpan dengan janji profit yang tak masuk akal—bisa mencapai 30 hingga 200 persen dalam waktu singkat. Setelah korban menyetor dana awal, mereka akan diperlihatkan grafik keuntungan fiktif untuk memancing setoran yang lebih besar.
Namun, drama sesungguhnya baru dimulai saat korban hendak melakukan penarikan dana (withdraw). Alih-alih mendapatkan uangnya kembali, korban justru diminta mentransfer "biaya administrasi" atau "pajak pencairan". Jika dana tersebut dikirim, sang penipu akan langsung memutus komunikasi. Grup dibubarkan, akun dihapus, dan uang lenyap ke rekening-rekening yang sulit dilacak.
Satgas Pasti (Satuan Tugas Pemberantasan Aktivitas Keuangan Ilegal) mengingatkan bahwa Telegram menjadi pilihan favorit para penipu karena fitur anonimitasnya yang tinggi. Di sana, siapa pun bisa menjadi siapa saja tanpa verifikasi identitas yang ketat.
Kepolisian sendiri mulai bergerak. Beberapa sindikat di Kalimantan Barat yang terhubung dengan jaringan internasional di Malaysia telah diringkus. Namun, bak mati satu tumbuh seribu, grup-grup baru terus bermunculan dengan nama-nama mentereng seperti "Trading Saham Sukses" atau "Kripto Cuan Malam Ini".
Bagi para investor, pesan dari otoritas hanya satu: jangan pernah tergiur pada janji yang terlalu indah untuk menjadi kenyataan. Di dunia investasi, setiap keuntungan besar selalu dibayangi risiko yang sama besarnya. Tanpa izin dari Bappebti atau OJK, investasi itu tak lebih dari sekadar perjudian di atas pasir hisap.
Di ujung hari, Reza hanya bisa menyesali kelalaiannya. Di layar ponselnya, notifikasi grup investasi baru kembali muncul. Isinya masih sama: ajakan untuk menjadi kaya dalam semalam. Kali ini, Reza memilih untuk menekan tombol block.
Baca Juga: Roy Suryo Siapkan Buku Gibran: Bongkar Fufufafa hingga Jejak Pendidikan Sydney
Artikel Terkait
Solidaritas di Tengah Lumpur, Warga Aceh Bantu Petugas PLN Tembus Medan Berat
Roy Suryo Siapkan Buku Gibran: Bongkar Fufufafa hingga Jejak Pendidikan Sydney
Jalan Santai Mepanga-Ongka Malino, Merajut Sinergi Umat di Hari Amal Bhakti
Arsitek Baru di Tanah Garuda, Menguji Tuah John Herdman
Transformasi Agile Kemenag, Melampaui Rutinitas Hari Amal Bhakti ke-80