• Selasa, 21 Juli 2026

Transformasi Agile Kemenag, Melampaui Rutinitas Hari Amal Bhakti ke-80

.
Nur Rafiqa, Sulawesi Today
- Sabtu, 3 Januari 2026 | 18:49 WIB
Kemenag tuntut ASN bertransformasi menjadi pribadi agile dan responsif di HAB ke-80. Bukan sekadar seremonial, tapi kerja nyata untuk umat.
Kemenag tuntut ASN bertransformasi menjadi pribadi agile dan responsif di HAB ke-80. Bukan sekadar seremonial, tapi kerja nyata untuk umat.

Sulawesitoday - Halaman Madrasah Tsanawiyah Negeri 2 Parigi Kota Raya mendadak riuh. Sabtu pagi, gerimis tipis tak menyurutkan langkah para abdi.

Peringatan Hari Amal Bhakti (HAB) ke-80 ini terasa berbeda. Upacara ini bukan sekadar rutinitas tahunan bagi korps ikhlas beramal.

Abdul Aziz Tombolotutu hadir mewakili Bupati Parigi Moutong pagi itu. Ia membawa pesan sentral tentang wajah baru birokrasi agama.

Pemerintah menekankan pentingnya transformasi menjadi pribadi yang "agile". ASN dituntut lincah dan sigap menghadapi arus perubahan zaman.

Sikap adaptif kini menjadi syarat mutlak dalam melayani umat. Keterbukaan terhadap inovasi teknologi bukan lagi sekadar pilihan gaya.

Setiap aparatur harus responsif terhadap segala kebutuhan masyarakat luas. Empati dan integritas menjadi fondasi utama dalam setiap pelayanan.

Delapan puluh tahun bukan usia yang singkat bagi lembaga ini. Kemenag lahir dari rahim kebutuhan bangsa yang sangat majemuk.

Sejarah mencatat, republik ini tidak dibangun oleh satu golongan. Sinergi seluruh komponen bangsa adalah kunci kemerdekaan yang hakiki.

Founding fathers meletakkan cita-cita besar pada pundak kementerian ini. Tujuannya jelas, yakni membina kehidupan keagamaan yang damai sejahtera.

Kini, peran tersebut bertransformasi menjadi jauh lebih krusial lagi. Kemenag bertugas menjaga nalar agama dalam bingkai kebangsaan kita.

Fokusnya meluas pada peningkatan kualitas pendidikan keagamaan yang inklusif. Selain itu, pemberdayaan ekonomi umat menjadi prioritas yang mendesak.

Sepanjang tahun 2025, fondasi "Kemenag Berdampak" mulai dibangun kuat. Semangat ini merupakan kerja nyata yang dirasakan langsung umat.

Nilai-nilai kelincahan sejatinya adalah warisan luhur tradisi agama kita. Kita hanya perlu mengaktualkan kembali dalam konteks modern saat ini.

Kerukunan kini dimaknai sebagai energi kebangsaan yang sangat produktif. Ia adalah rajutan perbedaan identitas menjadi kekuatan kolaboratif hebat.

Halaman:

Editor: Nur Rafiqa

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini