Kasus ini membuka diskusi luas tentang reformasi budaya kampus. Banyak yang menyerukan agar ospek tidak lagi jadi ajang intimidasi dan kekerasan. Malah, seharusnya ini jadi waktu untuk membantu mahasiswa baru beradaptasi. "Harusnya kan ospek itu seru-seruan, tapi malah jadi trauma kayak gini," kata salah satu mahasiswa di media sosial. Memang, kalau kita pikir-pikir, apa yang bisa kita harapkan dari sistem pendidikan kalau hal-hal kayak gini masih sering terjadi?
Dampak pada Institusi Pendidikan
Kasus ini menunjukkan betapa pentingnya kampus menciptakan lingkungan yang aman dan inklusif. Dengan respon cepat dari pihak kampus dan desakan dari orang tua korban, harapannya kasus ini bisa jadi titik balik dalam cara ospek dilakukan di masa depan. Nggak bisa terus begini, budaya kekerasan di kampus harus dihentikan.
Perlu ada perubahan nyata agar mahasiswa baru nggak merasa takut, tapi justru disambut dan didukung. Setelah semua yang terjadi, banyak yang bilang bahwa kejadian ini bisa jadi momentum bagi Universitas Lakidende dan kampus-kampus lain untuk lebih memperhatikan keselamatan mahasiswa mereka.
Buat siapa pun yang mengalami atau menyaksikan kekerasan seperti ini, penting banget buat berani berbicara. Diam bukanlah pilihan. Kasus Siti Rosalina bisa jadi pelajaran buat kita semua.
Artikel Terkait
Rekaman Suara Ungkap Kekejian di PPDS Undip, Mahasiswi Anestesi Diduga Alami Perundungan dan Bunuh Diri