Sulawesitoday - Hotel itu mentereng. Lokasinya di jantung bisnis Jakarta: Jalan Jenderal Sudirman, Karet. Keamanannya semestinya selapis baja. Namun, Selasa siang itu, 10 Februari 2026, kemegahan tersebut seolah tak berarti.
Jam makan siang memang jam kritis. Para peserta rapat bergegas turun ke lantai bawah. Ingin menikmati hidangan. Ruang rapat ditinggal dalam keadaan kosong. Mereka merasa aman.
Rupanya, ada sosok yang sudah memantau situasi. Penampilannya sangat rapi. Benar-benar *low-profile*. Ia begitu tenang menyatu dengan tamu hotel lainnya. Tidak ada yang curiga.
CCTV merekam segalanya. Si pria masuk ke ruang rapat yang sunyi itu. Gerakannya cepat. Tanpa suara. Tanpa jejak. **"Aksi pencurian berlangsung cepat dan tanpa menimbulkan suara mencurigakan,"** tulis unggahan Instagram @trensterid yang memviralkan kejadian ini.
Hanya butuh waktu singkat bagi pelaku untuk beraksi. Begitu keluar ruangan, ia sudah menggendong tas hitam. Melenggang santai menuju area depan hotel lalu menghilang.
Dua orang peserta rapat harus menelan pil pahit. Saat kembali ke ruangan, meja sudah bersih. Dua unit laptop raib. Bukan sekadar harga barangnya, tapi data penting perusahaan di dalamnya yang bikin pening. Belum lagi dompet berisi uang tunai dan kartu kredit. Kerugian ditaksir mencapai puluhan juta rupiah.
Hingga kini, manajemen hotel kelas atas itu belum bersuara. Belum ada keterangan resmi terkait bobolnya ruang rapat mereka.
"Diduga pada momen itulah pelaku masuk ke ruang rapat tanpa diketahui siapa pun," ungkap postingan media sosial tersebut.
Kejadian ini menjadi pengingat pahit. Gedung mewah bukan jaminan keamanan mutlak. Pelaku kejahatan masa kini makin pintar. Mereka sangat memahami titik buta CCTV. Penampilan rapi pun kini bisa jadi modal untuk menguras harta benda.
Truk Muat Ekskavator Gagal Taklukkan Tanjakan Morowali, Terperosok di Perbatasan Sulteng-Sultra